Lahir di Kota Tarakan pada 15 Januari 1981, Sabaruddin Achmad yang akrab disapa Sabar, sejak 2019 menggantungkan hidupnya sebagai pengemudi ojek online (ojol). Sesuai dengan namanya, Sabar terbiasa bersabar menjalani rutinitas panjang di jalanan, menerima setiap order, panas, hujan, hingga kemacetan sebagai bagian dari perjuangan hidup.
Setiap hari, dari pagi hingga malam, Sabar menyusuri jalanan Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Dengan sepeda motornya, ia mengantar penumpang dan paket dari satu titik ke titik lain. Rutinitas yang nyaris tanpa jeda itu ia jalani dengan ketekunan, karena setiap kilometer yang ditempuh adalah upaya agar kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi.
Namun di balik kesabaran menjalani hari-hari di jalan itu, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian, yakni kondisi mata. Padahal, bagi pengemudi ojol, mata yang sehat sangat menentukan keselamatan.
Berjam-jam berada di jalan dengan pencahayaan yang berubah-ubah, lalu lintas padat, debu, angin, dan panas, menuntut penglihatan yang tajam dan fokus. Gangguan sekecil apa pun berisiko, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga penumpang dan pengguna jalan lain.
Selama enam tahun bekerja sebagai pengemudi ojol, Sabar mengakui matanya kerap terasa sepet, perih, dan lelah (SePeLe), terutama setelah seharian berjibaku dengan debu jalanan. “Kalau sudah lama di jalan, apalagi pas panas dan berdebu, mata sering terasa nggak nyaman,” ujarnya saat ditemui di tepi Jalan Jenderal Sudirman, lokasi yang kerap menjadi tempatnya menunggu orderan, Minggu (11/1/2026).
Awalnya hanya rasa sepet. Namun lama-kelamaan, perih dan lelah ikut muncul. Kondisi ini semakin terasa ketika Sabar harus terus menatap layar ponsel untuk menerima order dan membaca peta. Bagi pengemudi ojol sepertinya, mata bekerja hampir tanpa jeda. Di jalan, fokus penuh dibutuhkan untuk memantau lalu lintas. Saat menunggu order, layar ponsel kembali menjadi pusat perhatian.
Debu beterbangan, angin kencang, dan terik matahari menjadi risiko harian yang harus dihadapi dengan sabar. “Kalau mata sudah terasa berat, konsentrasi ikut turun. Padahal di jalan, sedikit saja lengah bisa bahaya,” katanya. Belakangan, Sabar mulai menyadari bahwa keluhan tersebut bukan hal sepele. Aktivitas mata yang berlebihan, kurang istirahat, serta paparan debu dan polusi membuat gangguan itu semakin sering muncul. Ia pun tak ingin memaksakan diri, karena baginya, kesabaran juga berarti tahu kapan harus menjaga diri.
Di tengah kondisi itulah, setetes INSTO Dry Eyes menjadi penolong kecil yang berarti. Saat mata mulai terasa tidak nyaman, beberapa tetes cukup membantu memulihkan fokus. Biasanya, ia menggunakan satu hingga dua tetes sesuai anjuran. “Simple, tapi ngaruh. Mata jadi lebih enak, nggak perih lagi,” ujarnya singkat.

Sabar paham, tetes mata bukan satu-satunya solusi. Ia tetap berusaha memberi jeda pada matanya ketika memungkinkan, minum air yang cukup, serta mengurangi menatap layar ponsel terlalu lama saat tidak ada order. Namun di lapangan, kondisi ideal sering kali kalah oleh tuntutan pekerjaan. Dengan kesabaran yang sama seperti saat menunggu order, ia memilih langkah praktis agar tetap bisa bekerja dengan aman.
Terus terang, Sabar tidak terlalu memikirkan alasan ilmiah mengapa INSTO menjadi pilihannya. Yang ia rasakan sederhana: cepat membantu, mudah didapat di apotek, dan harganya terjangkau. Baginya, itu sudah cukup. INSTO Dry Eyes sendiri mengandung Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC), yang berfungsi sebagai pelumas menyerupai air mata alami. Efeknya tidak berlebihan, tetapi terasa nyata, mata kembali nyaman, pandangan lebih jernih, dan aktivitas dapat dilanjutkan tanpa gangguan berarti.
Sebagai merek tetes mata dari Combiphar yang telah hadir lebih dari 50 tahun di Indonesia, INSTO juga mendorong kesadaran akan pentingnya kesehatan mata melalui kampanye “Bebas Mata SePeLe”. Kampanye ini mengajak masyarakat untuk tidak lagi menganggap remeh gejala sepet, perih, dan lelah sebagai tanda awal mata kering. Kampanye tersebut telah digelar sejak Agustus 2025 di berbagai kota seperti Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta, termasuk di Gandaria City pada 7–9 November 2025, dengan rangkaian edukasi, zona interaktif, dan pemeriksaan mata kering gratis.
“INSTO berkomitmen meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap gejala mata kering dan pentingnya penanganan sejak awal agar tidak mengganggu aktivitas sehari-hari,” ujar Direktur PT Combiphar, Weitarsa Hendarto saat kampanye “Bebas Mata SePeLe” di Gandaria City, Jakarta, Jumat (7/11/2025).
Sabar pun berharap, edukasi semacam ini suatu hari bisa menjangkau para pengemudi ojol yang setiap hari bekerja di bawah terik dan debu jalanan. Kini baginya, menjaga kesehatan mata bukan semata soal kenyamanan. Ini menyangkut keselamatan, tanggung jawab, dan keberlanjutan hidup.
Di tengah rutinitas panjang yang menuntut kesabaran ekstra, setetes INSTO Dry Eyes menjadi teman kecil dalam perjuangan besar seorang ojol bernama Sabar, yang benar-benar harus bersabar menjalani kerasnya hidup di jalanan.


