Infrastruktur Tertinggal, Potensi Ekonomi Wisata Berau Terancam Tak Maksimal

BERAU – Sektor pariwisata digadang-gadang menjadi salah satu penopang ekonomi masa depan Kabupaten Berau di tengah ketergantungan daerah terhadap sektor pertambangan yang perlahan harus dikurangi.

Namun, harapan besar tersebut kini dihadapkan pada tantangan serius berupa keterbatasan infrastruktur penunjang yang masih belum merata di sejumlah kawasan wisata unggulan.

Pemerintah Kabupaten Berau menilai persoalan aksesibilitas menuju destinasi wisata harus menjadi perhatian bersama. Sebab, keberhasilan mendatangkan wisatawan dalam jumlah besar tidak akan memberikan dampak ekonomi maksimal apabila akses menuju lokasi wisata masih menyulitkan.

Bupati Berau, Sri Juniarsih, mengatakan tren kunjungan wisatawan yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir merupakan peluang besar bagi daerah untuk memperkuat sektor ekonomi non-tambang.

Namun peluang tersebut berisiko terhambat apabila pembangunan infrastruktur tidak berjalan seiring dengan pertumbuhan sektor wisata.

Menurutnya, kawasan pesisir seperti Biduk-Biduk hingga Kepulauan Derawan yang masuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) memiliki daya tarik luar biasa. Sayangnya, sejumlah ruas jalan menuju kawasan tersebut masih membutuhkan perhatian serius.

“Kita sedang berada di momentum yang baik. Kunjungan wisatawan meningkat, tapi jika akses tidak segera dibenahi, kita bisa kehilangan peluang besar ini,” ujarnya.

Data kunjungan wisata menunjukkan perkembangan yang cukup positif. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Berau telah mencapai lebih dari 92 ribu orang. Peningkatan tersebut salah satunya didukung oleh keberadaan Jembatan Nibung yang membuka konektivitas lebih baik menuju kawasan wisata pesisir.

Meski demikian, masih terdapat sejumlah titik jalan yang mengalami kerusakan dan penurunan kualitas. Ruas jalan di wilayah Maluang, Samburakat hingga Sambaliung menjadi beberapa contoh jalur yang dinilai membutuhkan penanganan segera. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kenyamanan perjalanan wisatawan, tetapi juga berpotensi mengganggu keselamatan pengguna jalan.

Sri Juniarsih menilai pembangunan konektivitas menuju destinasi wisata tidak boleh dipandang sebagai proyek infrastruktur semata. Lebih dari itu, akses yang baik akan membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat lokal, mulai dari pelaku usaha mikro, pengelola homestay, penyedia transportasi hingga sektor kuliner.

Ketika wisatawan dapat menjangkau destinasi dengan mudah dan nyaman, maka durasi kunjungan serta belanja wisata juga berpotensi meningkat. Kondisi tersebut pada akhirnya akan memberikan efek berganda terhadap perekonomian masyarakat di sekitar kawasan wisata.

Karena itu, dirinya berharap Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dapat mempercepat pembangunan ruas jalan yang menjadi kewenangan provinsi, terutama jalur penghubung menuju Biduk-Biduk dan kawasan wisata pesisir lainnya.

“Konektivitas ini bukan hanya soal pariwisata, tetapi juga menyangkut perputaran ekonomi masyarakat lokal,” tegasnya.

Selain persoalan jalan, tantangan lain yang masih dihadapi sektor pariwisata Berau adalah keterbatasan fasilitas dasar di sejumlah destinasi. Ketersediaan toilet yang layak, area istirahat, hingga sarana pendukung lainnya dinilai masih perlu ditingkatkan agar mampu memenuhi ekspektasi wisatawan yang terus berkembang.

Pemerintah daerah juga mendorong peran aktif kampung melalui Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) untuk mengelola fasilitas wisata secara profesional. Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas layanan, tetapi juga memperluas manfaat ekonomi yang diterima masyarakat setempat.

Di sisi lain, persoalan kebersihan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dibenahi. Keberadaan sampah di sejumlah jalur menuju destinasi wisata dinilai dapat merusak citra daerah yang selama ini dikenal memiliki kekayaan alam kelas dunia.

Menurut Sri Juniarsih, pengalaman wisata tidak hanya ditentukan oleh keindahan destinasi yang dikunjungi, tetapi juga oleh kondisi perjalanan yang dilalui wisatawan sejak awal hingga akhir kunjungan.

“Wisatawan tidak hanya melihat destinasi, tapi juga perjalanan menuju ke sana. Jika jalurnya kotor, itu akan meninggalkan kesan buruk,” pungkasnya. (adv)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

BERITA POPULER