Budaya Tidung di Perbatasan Kaltara Kian Tergerus, BRIN Dorong Revitalisasi

TARAKAN – Budaya Suku Tidung di wilayah perbatasan Kalimantan Utara (Kaltara) kian tergerus akibat derasnya arus globalisasi dan tingginya interaksi lintas etnis. Kondisi ini mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), untuk menekankan pentingnya langkah revitalisasi budaya.

Ketua tim riset, Fairul Zabadi, menjelaskan penelitian yang dilakukan sejak 2024 ini tidak hanya bertujuan mendokumentasikan budaya, tetapi juga menjadi dasar dalam upaya revitalisasi budaya Tidung di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia. “Dokumentasi ini penting sebagai langkah awal revitalisasi, agar budaya Tidung tidak hanya tersimpan, tetapi juga bisa dihidupkan kembali dan diwariskan ke generasi berikutnya,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).

Penelitian ini melibatkan sejumlah peneliti dari Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas BRIN serta kalangan akademisi, yakni Fatmahwati, Wahyudi, Seifu Zaman, Eka Suyatin, Royan Nur Fahmi, serta Ajeng Charaka.

Penelitian mencakup wilayah Kabupaten Nunukan, Kecamatan Sebatik, Kota Tarakan, hingga Kabupaten Tanah Tidung (KTT), dan dilakukan dalam tiga tahap selama tiga tahun.

Hasil sementara menunjukkan adanya tantangan serius terhadap keberlangsungan budaya Tidung. Selain globalisasi, perubahan fungsi wilayah menjadi kawasan hunian multietnis turut mempercepat pergeseran budaya lokal.

Di Sebatik, pengaruh budaya negara tetangga juga semakin kuat dan memengaruhi kehidupan masyarakat setempat.

Dalam riset tahun kedua di Tarakan, tim mencatat berbagai warisan budaya yang masih bertahan, seperti permainan tradisional Batu Lele, Lugu (Balugu), Simbon, dan Babitor. Kuliner khas seperti Nasi Subut, Nasi Rasul, Sabai Banabok, dan Ketumpuk Udang juga menjadi bagian penting dari identitas budaya Tidung.

Ritual adat seperti Mandi Safar, Melarung Kapal ke Laut, hingga Besetan Badewa masih dijalankan, begitu pula tradisi sosial seperti Nyembaloy dan Bekeparat yang menjaga harmoni masyarakat.

Meski demikian, tim peneliti menilai diperlukan langkah revitalisasi yang lebih konkret, tidak hanya melalui dokumentasi, tetapi juga melalui penguatan praktik budaya di tengah masyarakat.

Revitalisasi tersebut dapat dilakukan melalui penyusunan bahan ajar, pengenalan budaya di sekolah, hingga pertunjukan seni dan festival budaya agar generasi muda tetap mengenal dan mempraktikkan budaya Tidung.

Dalam kesimpulannya, riset ini menegaskan bahwa tanpa upaya revitalisasi yang berkelanjutan, identitas budaya Tidung di wilayah perbatasan berpotensi semakin kabur. Padahal, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti gotong royong dan kebersamaan, merupakan bagian penting dari penguatan identitas kebangsaan. “Revitalisasi menjadi kunci agar budaya Tidung tidak hilang, tetapi tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman,” tutup Fairul.

Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

16.4k Pengikut
Mengikuti

BERITA POPULER