TARAKAN – Upaya melestarikan bahasa Tidung melalui pembelajaran di sekolah dinilai masih menghadapi tantangan. Selain materi ajar, ketersediaan tenaga pengajar yang menguasai bahasa Tidung sekaligus memiliki kemampuan mengajar menjadi pekerjaan rumah yang perlu segera disiapkan.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Tarakan Abdul Salam mengatakan, banyak penutur bahasa Tidung yang fasih berbahasa, namun belum tentu memiliki kompetensi sebagai pengajar.
“Penuturnya banyak, tetapi tidak semua bisa mengajar. Karena itu perlu pelatihan khusus bagi penutur bahasa Tidung agar nantinya bisa dilibatkan dalam pembelajaran di sekolah,” kata Abdul Salam, Minggu (13/9/2026).
Dia menjelaskan, pelestarian bahasa daerah sebenarnya telah masuk dalam dokumen Pokok Pikiran Pemajuan Kebudayaan Daerah (PPKD). Dalam dokumen tersebut, pemerintah telah memetakan berbagai persoalan beserta rencana tindak lanjut hingga 2029, termasuk terkait pengembangan bahasa daerah.
Meski demikian, Abdul Salam mengaku belum mengetahui secara rinci perkembangan penerapan bahasa Tidung sebagai muatan lokal di sekolah. Sejak menjabat sebagai Kabid Kebudayaan pada 2020, menurutnya belum ada pembahasan khusus bersama Dinas Pendidikan mengenai pembagian peran dalam program tersebut.
“Selama saya menjadi Kabid Kebudayaan, belum pernah ada komunikasi khusus. Padahal seharusnya bisa duduk bersama untuk menentukan peran masing-masing dalam melestarikan bahasa Tidung,” ujarnya.
Menurut dia, koordinasi antarlembaga penting agar program pelestarian bahasa daerah tidak berjalan sendiri-sendiri. Disbudporapar, kata dia, siap berkontribusi apabila dilibatkan, termasuk membantu menyiapkan sumber daya manusia yang nantinya dapat menjadi tenaga pengajar.
Dia menilai, pelestarian bahasa Tidung tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran di sekolah. Bidang kebudayaan juga dapat memperkuatnya lewat berbagai program, seperti kegiatan di museum maupun workshop yang memperkenalkan bahasa Tidung kepada masyarakat.
“Misalnya melalui program di museum, ada teks menggunakan bahasa Tidung atau kegiatan workshop dengan narasumber yang menguasai bahasa Tidung. Itu juga bagian dari pelestarian,” tuturnya.
Namun, Abdul Salam menegaskan persoalan tenaga pengajar tetap harus menjadi perhatian utama. Menurutnya, kebutuhan guru bahasa Tidung tidak cukup dipenuhi untuk jangka pendek, tetapi harus direncanakan secara berkelanjutan, termasuk dari sisi penganggaran.
“Harus ada keberlanjutan, termasuk penganggaran tenaga pengajarnya,” katanya.
Dia menambahkan, tidak semua sekolah memiliki guru yang benar-benar menguasai bahasa Tidung. Kondisi tersebut berpotensi membuat pembelajaran kurang maksimal apabila hanya mengandalkan buku ajar.
“Keberadaan bahan ajar tetap harus didukung tenaga pengajar yang memahami bahasa Tidung sekaligus memiliki kemampuan mengajar. Penuturnya ada, tetapi yang bisa mengajar itu yang harus disiapkan,” pungkasnya. (apc/and)
Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika


