Warga Tarakan Diimbau Tak Bakar Lahan Sembarangan, Cuaca Ekstrem Picu Potensi Kebakaran

TARAKAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, mengingat kondisi cuaca di wilayah ini saat ini sedang mengalami peningkatan suhu yang cukup ekstrem.

Kepala BPBD Tarakan, Yonsep, menjelaskan bahwa sejak pertengahan Juli hingga akhir bulan, Tarakan diprediksi memasuki musim kering. “Diperkirakan mulai tanggal 20 itu sudah musim kering, dan itu terbukti sampai hari ini. Dari tanggal 25 sampai 26, peningkatan suhu sangat terasa,” ujarnya, Kamis (24/7/2025).

Dia menegaskan, kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar sangat berisiko dalam kondisi cuaca panas saat ini.

“Masyarakat kita memang sering memanfaatkan musim kering untuk membakar lahan. Karena itu kami sudah keluarkan surat edaran ke kecamatan dan kelurahan agar mengimbau warga agar berhati-hati. Kalau memang harus membakar, segera laporkan ke BPBD, kelurahan, kecamatan, atau KPH,” katanya.

Yonsep menekankan pentingnya langkah pencegahan, seperti membuat sekat antar lahan, serta menyiapkan air atau pompa sederhana sebelum melakukan pembakaran. “Jangan sampai api meluas. Kalau tidak sanggup mengendalikan, segera hubungi call center 112,” imbaunya.

Yonsep menyebut, hingga saat ini terdapat tiga laporan kebakaran lahan di Tarakan sejak awal Juli. Yang paling luas terjadi di kawasan vital, yakni dekat pembangkit listrik di kawasan Binalatung dengan estimasi lahan terbakar mencapai 5 hektare.

Dia juga menyebut kawasan Pantai Amal dan Juata Laut sebagai wilayah paling rawan kebakaran karena merupakan daerah perkebunan aktif. “Itu daerah yang paling sering muncul laporan pembakaran lahan,” jelasnya.

Terkait kesiapan BPBD, Yonsep menegaskan seluruh staf operasional telah disiagakan sejak awal peringatan dini muncul. “Personel dan peralatan kami siap, baik yang bersifat mobil operasional maupun portable. Tapi saat kemarau, yang jadi masalah adalah air,” katanya.

BPBD juga mendorong warga untuk menyiapkan tampungan air atau menggali sumur di kebun. “Kami selalu sampaikan dalam sosialisasi, minimal ada tampungan air untuk antisipasi. Karena Tarakan 3-4 hari saja tidak hujan, sudah rawan,” pungkasnya. (apc/and)

Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

16.4k Pengikut
Mengikuti

BERITA POPULER