TARAKAN – Pemerintah Kota Tarakan menyiapkan lahan seluas 20 hektare di Kelurahan Mamburungan, Tarakan Timur, sebagai lokasi pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT). Saat ini, proses hibah lahan kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah masih berlangsung sebelum pembangunan fisik dimulai.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah (Kabid Dikdasmen) Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Edy Pujianto, mengatakan lahan yang disiapkan telah memenuhi persyaratan dan tidak memiliki persoalan sengketa. Tahapan yang sedang berjalan adalah pengurusan administrasi hibah dan proses di Badan Pertanahan Nasional (BPN).
“Lahannya sudah clear. Sekarang tinggal proses hibah kepada kementerian. Setelah itu, pembangunan menjadi kewenangan pemerintah pusat,” ujar Edy, Selasa (4/8/2026).
Dia menjelaskan, kebutuhan lahan seluas 20 hektare disesuaikan dengan konsep Sekolah Nasional Terintegrasi yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga menjadi kawasan pendidikan terpadu.
Di dalam kawasan tersebut nantinya tidak hanya dibangun ruang kelas, tetapi juga berbagai fasilitas penunjang, seperti laboratorium sains dan teknologi, sarana seni dan olahraga, area pengembangan kewirausahaan, kebun pertanian, peternakan, kolam ikan, hingga kolam renang.
“Konsepnya memang untuk mendukung pengembangan potensi siswa secara menyeluruh, baik akademik maupun nonakademik. Karena itu lahannya harus cukup luas,” katanya.
Tarakan, kata dia, menjadi salah satu dari 17 daerah di Indonesia yang ditetapkan sebagai lokasi pembangunan SNT tahap awal. Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah menghadirkan sekolah unggulan, dengan layanan pendidikan yang lebih berkualitas dan merata.
Sambil menunggu pembangunan gedung permanen di Mamburungan, kegiatan belajar mengajar angkatan pertama SNT Tarakan akan dilaksanakan di lokasi transisi dengan memanfaatkan sebagian gedung di kompleks SMP Negeri 14 Tarakan.
Di sisi lain, proses penerimaan peserta didik baru telah memasuki tahapan seleksi. Setelah seluruh rangkaian seleksi selesai, siswa yang dinyatakan lolos akan mulai mengikuti kegiatan belajar di sekolah transisi sebelum nantinya berpindah ke kampus permanen setelah pembangunan selesai.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


