TARAKAN – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Wamen Diktisaintek RI), Prof. Stella Christie, melakukan kunjungan kerja ke Universitas Borneo Tarakan (UBT), Kalimantan Utara, pada Sabtu (12/7/2025).
Kunjungan ini disambut langsung oleh Rektor UBT, Prof. Yahya Ahmad Zein, bersama jajaran. Rombongan Wamen juga diajak meninjau pameran hasil riset dosen dan mahasiswa UBT.
Dalam sambutannya, Rektor Prof. Yahya memaparkan sejarah singkat UBT. Dirinya menyebut kampus ini awalnya merupakan universitas swasta yang didirikan oleh Yayasan Pinekindi atas inisiatif Pemerintah Daerah pada tahun 1999.
“UBT mulai beroperasi berdasarkan SK Menteri pada 2001 dan diresmikan sebagai Perguruan Tinggi Negeri Baru (PTNB) oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2010,” ungkapnya.
Rektor juga menekankan bahwa UBT didirikan dengan misi mulia yakni membuka akses pendidikan tinggi bagi anak-anak tenaga kerja Indonesia (TKI) dan masyarakat perbatasan yang selama ini kesulitan menjangkau perguruan tinggi.
“Dulu anak-anak perbatasan harus menempuh perjalanan jauh dengan kapal laut ke Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, atau bahkan Pulau Jawa. Kini mereka bisa kuliah di kampung sendiri,” katanya.
UBT saat ini memiliki sekitar 12.226 mahasiswa dan menerima 2.700 mahasiswa baru pada tahun ajaran ini. Bahkan, jumlah pendaftar melebihi kuota yang disediakan.
Salah satu capaian penting adalah dibukanya Fakultas Kedokteran yang diminati calon mahasiswa dari seluruh Indonesia. “Syukurnya, 85 persen mahasiswa kedokteran adalah anak-anak Kaltara. Ini modal penting untuk pemenuhan kebutuhan dokter di masa depan,” ujar Rektor.
Meski berkembang pesat, Rektor mengungkapkan beberapa tantangan, khususnya dalam aspek sumber daya manusia. “Jumlah dosen baru 350 orang, banyak yang berstatus PPPK dan belum bisa berkembang akademik. Bahkan ada wakil rektor yang SK-nya masih dosen,” jelasnya.
Rektor juga menyampaikan komitmen UBT mendukung pembentukan SMA Garuda di wilayah perbatasan dan berharap dukungan lintas kementerian serta pemangku kepentingan lainnya.
Sementara itu, Wamen Prof. Stella Christie menyampaikan bahwa tujuan utama kunjungan bukan untuk memberikan kuliah umum, tetapi untuk menilai apakah pola riset di perguruan tinggi berjalan sehat.
“Di UBT, pola risetnya sangat sehat dan luar biasa meskipun berada di daerah. Saya mengajak Pemda juga turut melihat hasil riset ini agar bisa disampaikan kepada gubernur dan wakil gubernur,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi keberadaan Sains Techno Park (STP) yang dibangun secara mandiri oleh UBT. “Ini luar biasa. Di bawah Kementerian, hanya ada lima STO (Science Techno Park) di seluruh Indonesia,” jelasnya.
Soal pendanaan riset, Wamen menyebut kompetisi sangat ketat karena jumlah proposal yang masuk tinggi. Namun, tingkat keberhasilannya (success rate) mencapai 30 persen, yang dianggap cukup baik.
Ke depan, Kementerian akan meluncurkan program dana riset khusus yang diarahkan untuk kebutuhan nasional dan berdampak pada ekonomi. Di antaranya mencakup ketahanan pangan, pertanian, kelautan, energi, dan pengembangan rumput laut.
“Proposal harus ditulis jelas dan tepat sasaran,” pesannya.
Kementerian juga mendorong agar hasil riset perguruan tinggi dapat dimanfaatkan langsung oleh pemerintah daerah dan masyarakat sekitar. Dalam hal ini, Kementerian siap membantu menjembatani kerja sama dengan dunia industri melalui Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO). (apc/and)
Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika


