TARAKAN — Penyakit yang dikenal di masyarakat sebagai super flu ternyata sudah sempat masuk ke Kota Tarakan sejak akhir 2025. Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan mencatat tiga kasus influenza tipe A dengan gejala berat, namun seluruh pasien dipastikan telah sembuh dan tidak ditemukan kasus lanjutan hingga Januari 2026.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Tarakan, Rinny Faulina, menjelaskan bahwa istilah super flu bukanlah diagnosis medis, melainkan sebutan masyarakat untuk influenza A yang menimbulkan gejala lebih berat dibanding flu biasa.
“Kalau bahasa medisnya influenza A. Disebut super flu karena demamnya bisa tinggi, sampai 39 bahkan 41 derajat, disertai nyeri badan, sakit kepala, dan sakit tenggorokan,” ujar Rinny, Rabu (7/1/2026).
Menurutnya, tiga kasus tersebut terdeteksi pada November 2025. Sampel pasien dikirim ke laboratorium rujukan di Banjarbaru, dan hasil pemeriksaan baru keluar sekitar dua pekan kemudian. “Waktu hasil lab keluar, pasiennya sudah sembuh. Pemeriksaan memang butuh waktu karena antrean,” jelasnya.
Rinny menegaskan, hingga saat ini belum ada temuan kasus baru dan tidak ada tambahan sampel yang dikirim ke laboratorium. Kondisinya pun sudah aman terkendali. “Per Januari 2026, belum ada kasus lanjutan. Kondisinya terkendali,” katanya.
Meski demikian, Dinkes Tarakan mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Influenza A memiliki tingkat penularan yang cepat dan sering kali tidak disadari karena gejalanya mirip flu biasa.
“Banyak yang menganggap cukup istirahat atau minum air hangat, tidak periksa ke fasilitas kesehatan. Ini yang membuat kasus bisa tidak terdeteksi,” ujarnya.
Ia menyebut kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penderita penyakit penyerta berisiko mengalami kondisi yang lebih berat bila terinfeksi. “Kalau imunitasnya rendah, dampaknya bisa serius, hampir mirip situasi COVID-19 dulu,” tambahnya.
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Tarakan telah mengingatkan seluruh puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan agar lebih waspada terhadap pasien dengan gejala flu berat, terutama demam tinggi di atas normal. “Tenaga kesehatan diminta lebih teliti saat anamnesis,” kata Rinny.
Selain itu, edukasi kepada masyarakat terus diperkuat dengan mengajak kembali menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti mencuci tangan, memakai masker di tempat berisiko, serta membatasi aktivitas saat sakit. “Kalau sedang flu, pakai masker untuk melindungi keluarga,” imbaunya.
Rinny juga menekankan pentingnya menjaga daya tahan tubuh melalui pola makan bergizi, istirahat cukup, olahraga, dan konsumsi suplemen bila diperlukan.
Terkait pencegahan tambahan, vaksin influenza tetap dianjurkan meski varian virus berbeda. “Variannya memang tidak sama, tapi vaksin influenza masih bisa digunakan,” jelasnya.
Vaksin tersebut tersedia di sejumlah fasilitas kesehatan dan praktik dokter swasta, meski umumnya berbayar. Dinkes Tarakan pun mengingatkan masyarakat agar tidak menyepelekan flu dengan gejala berat. “Kalau demam tinggi dan nyeri hebat, segera periksa. Deteksi dini itu kunci,” pungkas Rinny.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


