TARAKAN – Jumlah siswa jenjang SMP di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Tarakan masih jauh dari target yang ditetapkan. Dari target 50 siswa, saat ini baru tercatat 16 siswa, sementara untuk tingkat SD hampir memenuhi target dengan capaian 49 siswa dari 50 yang direncanakan.
Kepala Sekolah SRT Tarakan, Marisa Aulia, mengungkapkan bahwa pihak sekolah terus berupaya meningkatkan jumlah peserta didik, khususnya di jenjang SMP, salah satunya melalui promosi aktif di media sosial.
“Untuk SD saat ini sudah hampir memenuhi target, tapi SMP memang masih menjadi tantangan karena baru 16 siswa dari target 50,” ujar Marisa, Kamis (15/1/2026).
Ia menjelaskan, kendala utama minimnya siswa SMP di SRT Tarakan disebabkan oleh kondisi sosial ekonomi. Banyak anak usia SMP yang memilih bekerja dibandingkan melanjutkan pendidikan.
“Kendalanya, cukup banyak anak di usia SMP yang lebih memilih bekerja daripada bersekolah. Selain itu, calon siswa SR rata-rata saat ini masih bersekolah di sekolah reguler, dan menunggu tahun ajaran baru untuk bisa bergabung,” jelasnya.
Meski demikian, Marisa memastikan proses pembelajaran di SRT Tarakan berjalan dengan sangat baik. Fasilitas pendukung pembelajaran seperti laptop dan Interactive Flat Panel (IFP) telah tersedia di seluruh kelas dan dimanfaatkan secara optimal oleh siswa.
“Anak-anak sudah terbiasa belajar menggunakan laptop dan IFP. Bahkan ada beberapa siswa yang sebelumnya belum bisa membaca, sekarang sudah mampu membaca dengan lancar,” katanya.
Saat ini, SRT Tarakan juga telah memasuki tahap pembelajaran formal setelah sebelumnya menjalankan program matrikulasi. Program matrikulasi tersebut dimulai sejak 14 Oktober 2025, dan berlangsung selama tiga bulan sebagai tahap awal sebelum pembelajaran akademik reguler.
Dalam masa matrikulasi, siswa dibekali berbagai materi persiapan, mulai dari orientasi studi dan lingkungan, pendidikan keagamaan, kepemimpinan, dasar sains untuk STEM, bahasa Indonesia dan Inggris, hingga pembentukan karakter.
Selain itu, sekolah juga melakukan talent mapping dan asesmen diagnostik untuk memetakan karakter, motivasi, bakat, minat, serta potensi masing-masing siswa sebagai dasar penyusunan kurikulum dan metode pembelajaran.
Marisa menambahkan, antusiasme siswa dan kreativitas guru menjadi faktor penting yang membuat proses belajar di SRT Tarakan berjalan lancar.
“Anak-anak punya semangat belajar yang tinggi, guru-gurunya kreatif, ditambah peran wali asuh dan wali asrama yang menanamkan disiplin dan tanggung jawab. Suasana belajar jadi sangat positif,” pungkasnya.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


