TARAKAN – Koperasi Merah Putih (KMP) Kelurahan Kampung Empat, Kota Tarakan, belum juga beroperasi meski pembangunan gerainya telah dimulai sejak Oktober 2025.
Hampir setahun setelah peletakan batu pertama, kondisi fisik gerai tersebut sebenarnya telah rampung. Namun, KMP Kampung Empat masih menunggu kelengkapan sarana, dukungan modal, serta kesiapan pengurus untuk menjalankan aktivitas koperasi.
Kepala Bidang Koperasi Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan (DKUKMP) Kota Tarakan, Ardiansyah, mengatakan KMP Kampung Empat merupakan satu dari tujuh gerai yang saat ini dibangun di Tarakan.
“Dua di antaranya fisiknya sudah 100 persen, yaitu Kampung Empat dan Juata Permai. Sedangkan lima lainnya masih dalam proses pembangunan,” kata Ardiansyah, Minggu (23/8/2026)
Lima gerai yang masih dibangun berada di Pantai Amal, Pemusian, Karang Harapan, Karang Anyar dan Juata Kerikil.
Menurut Ardiansyah, persoalan KMP bukan hanya pembangunan fisik. Gerai yang telah rampung juga belum dapat langsung digunakan karena kendaraan dan perlengkapan pendukung belum disuplai.
Pengadaan gerai beserta perlengkapannya merupakan bagian dari program yang secara nasional dipercayakan kepada PT Agrinas.
“Gerai dan perlengkapannya, porsinya gitu,” ujarnya.
Selain kelengkapan sarana, persoalan modal juga menjadi salah satu kendala KMP untuk mulai menjalankan kegiatan usaha. Modal program saat ini masih dikelola oleh pihak yang ditunjuk dalam pelaksanaan program, sehingga koperasi belum leluasa menjalankan unit-unit usaha yang direncanakan.
“Kalau program secara nasional kan gerai ada beberapa usaha, seperti sembako, pengadaan pupuk, pengadaan LPG, termasuk juga unit simpan pinjam nantinya,” jelasnya.
Persoalan lainnya datang dari sisi kepengurusan. Meski seluruh KMP telah memiliki pengurus sejak didirikan pada 2025, sebagian pengurus mulai berhenti dan tidak lagi aktif menjalankan koperasi.
Ardiansyah menyebut aktivitas koperasi sangat bergantung pada kesiapan pengurus dan keterlibatan masyarakat. Sementara DKUKMP berperan dalam pembinaan dan pemberdayaan.
“Fluktuatif memang, karena variabelnya lebih ke pengurus. Kalau kita di dinas memang melakukan pembinaan, pemberdayaan. Tapi variabel lainnya juga pengurus dan masyarakat,” katanya.
Dari 20 KMP yang ada di Tarakan, saat ini baru KMP Selumit dan KMP Karang Anyar yang secara rutin menjalankan aktivitas. Itu pun belum menggunakan gerai permanen.
KMP Selumit memanfaatkan tempat tinggal salah satu pengurus sebagai lokasi sementara. Sedangkan KMP Karang Anyar menggunakan kantor kelurahan.
Sementara sejumlah KMP lainnya baru melakukan aktivitas secara temporer melalui kerja sama dengan masyarakat.
Program KMP secara nasional dirancang sebagai wadah penguatan ekonomi masyarakat di tingkat kelurahan. Unit usaha yang disiapkan antara lain sembako, pupuk, LPG dan simpan pinjam.
Pembangunan gerai di Tarakan sendiri dilakukan berdasarkan sejumlah persyaratan. Lokasi harus berada di atas lahan milik pemerintah daerah, memiliki akses jalan serta dukungan jaringan listrik, air dan internet.
Luas lahan juga dipersyaratkan sekitar 1.000 meter persegi atau sedikit di bawah ukuran tersebut.
Dalam pelaksanaannya, Pemkot Tarakan membentuk tim verifikasi dan validasi (Verfal) untuk memastikan bangunan dan dokumen memenuhi ketentuan. Sementara pembangunan gerai secara nasional ditunjuk kepada PT Agrinas, sedangkan pengawasan pembangunan di lapangan dilakukan oleh TNI.
Dengan kondisi tersebut, gerai KMP Kampung Empat yang telah rampung secara fisik masih belum bisa dimanfaatkan sepenuhnya.
Setahun setelah pembangunan dimulai, koperasi tersebut masih menunggu kelengkapan sarana, kepastian dukungan modal dan kesiapan pengurus agar dapat benar-benar beroperasi. (apc/and)
Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika


