Risiko HIV pada LSL Disorot, Edukasi Sejak Dini Dinilai Penting

TARAKAN – Risiko penularan HIV pada kelompok laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (LSL), menjadi perhatian dalam upaya pencegahan penyakit menular seksual di Kota Tarakan. Edukasi mengenai kesehatan seksual dan perilaku berisiko dinilai perlu diberikan sejak dini, agar masyarakat memiliki pemahaman yang tepat mengenai cara penularan dan pencegahan HIV.

Pencegahan dinilai tidak cukup hanya dilakukan ketika seseorang telah terpapar. Pengetahuan mengenai kesehatan seksual, pentingnya menghindari perilaku seksual berisiko, serta akses terhadap pemeriksaan kesehatan perlu diperkuat di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Tarakan, dr. Jumiati, mengatakan kelompok LSL memiliki risiko lebih tinggi terhadap penularan HIV dalam kondisi tertentu, terutama ketika hubungan seksual dilakukan tanpa perlindungan yang memadai.

Menurutnya, risiko tersebut berkaitan dengan praktik hubungan seksual dan jalur penularan HIV, bukan semata-mata karena identitas seseorang.

“Hubungan yang melibatkan kontak mukosa menjadi salah satu jalur penularan HIV selain melalui darah,” ujar Jumiati, Sabtu (22/8/2026).

Karena itu, ia menilai edukasi sejak dini menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah penularan. Anak dan remaja perlu mendapatkan informasi yang benar mengenai kesehatan reproduksi, batasan pergaulan, serta konsekuensi dari perilaku seksual yang berisiko.

Selain edukasi, peran keluarga juga dinilai penting. Orang tua diminta membangun komunikasi yang terbuka dengan anak, sehingga persoalan terkait pergaulan maupun kesehatan dapat diketahui lebih awal.

Jumiati menyoroti kondisi ketika orang tua hadir secara fisik di rumah, tetapi kurang hadir secara emosional. Menurutnya, waktu berkumpul bersama keluarga seharusnya dimanfaatkan untuk membangun komunikasi, bukan justru masing-masing sibuk dengan gawai.

“Orang tua harus hadir secara emosional. Anak perlu memiliki ruang untuk bercerita dan merasa didampingi,” katanya.

Ia juga mendorong masyarakat yang memiliki risiko terpapar HIV, untuk tidak takut melakukan pemeriksaan kesehatan. Deteksi dini penting, agar seseorang dapat segera memperoleh layanan dan penanganan medis yang sesuai.

Upaya pencegahan, lanjutnya, membutuhkan kerja bersama antara keluarga, lingkungan pendidikan, masyarakat, dan layanan kesehatan. Edukasi yang benar diharapkan dapat mencegah penyebaran informasi keliru sekaligus mengurangi stigma terhadap orang yang hidup dengan HIV.

Dengan pendekatan tersebut, pencegahan HIV diharapkan tidak hanya berfokus pada penanganan setelah terjadi penularan, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat untuk mengenali risiko dan mengambil langkah pencegahan sejak awal.

Pewarta: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

BERITA POPULER