Produktivitas Udang Windu di Kaltara Terus Menurun, Pembudidaya Harap Pemerintah Benahi Hulu Perikanan

TARAKAN – Ketua Asosiasi Pembudidaya Udang Windu Kalimantan Utara, Haryanto, mengungkapkan keprihatinan atas terus menurunnya produktivitas udang windu di wilayah Kalimantan Utara dalam dua dekade terakhir.

Dia menyebut, pada masa keemasannya sebelum tahun 2000, ekspor udang windu dari Kalimantan Utara dapat mencapai 700 hingga 900 ton per bulan. Namun kini, jumlah itu merosot tajam.

“Sekarang sampai hari ini, data terakhir bulan Agustus tahun lalu, ekspor udang windu kita hanya 500 ton dalam setahun. Dulu bisa 900 ton per bulan,” ungkap Haryanto, di Tarakan, belum lama ini.

Dia menilai penurunan tersebut berkaitan erat dengan berbagai persoalan di sektor hulu perikanan yang belum dibenahi secara serius. Salah satu kendala utama adalah tidak adanya unit pembenihan udang (hatchery) bersertifikat di wilayah Kalimantan Utara.

“Hatchery kita di sini belum ada yang bersertifikasi. Itu jadi momok buat kami,” tegasnya.

Lebih lanjut, Haryanto juga menyoroti tidak tersedianya laboratorium untuk menganalisis permasalahan di tambak. Menurutnya, saat terjadi kematian massal udang di tambak, para petambak kesulitan mengidentifikasi penyebabnya karena tidak ada fasilitas laboratorium yang memadai.

“Kalau kita mengalami kematian atau persoalan di tambak, kita belum punya lab untuk menganalisa itu,” jelasnya.

Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) para petambak juga menjadi persoalan tersendiri. Meski beberapa pelatihan sudah ada, namun dia menilai program peningkatan kapasitas petambak belum berjalan optimal dan belum menyentuh semua pelaku budidaya.

“Kami sebenarnya cukup banyak dibantu pemerintah daerah, tapi pola-pola pelatihan dan peningkatan SDM ini yang kami harapkan bisa lebih sistematis dan menyeluruh,” tambahnya.

Dalam upaya meningkatkan hasil produksi, Haryanti juga menyebut telah melakukan uji coba penggunaan probiotik dalam budidaya udang. Hasilnya cukup menjanjikan. Dari bibit sebanyak 100 ribu ekor, tambaknya mampu menghasilkan lebih dari 1 ton udang dalam satu siklus, sebuah lompatan produktivitas hingga 90 persen dibanding sebelumnya.

Meski demikian, dia mengakui bahwa penerapan probiotik tidak mudah karena keterbatasan bahan baku, terutama dedak dan tepung ikan yang sulit diperoleh di Tarakan. Dedak, salah satu bahan utama pembuatan probiotik, hanya bisa diperoleh dari petani yang menanam padi yang jumlahnya juga terbatas.

“Dedak itu bahan utama, tapi di Tarakan jarang ada. Selain dedak dan tepung ikan, bahan lainnya masih mudah didapat,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, dia menginisiasi pembentukan kelompok pembudidaya yang fokus pada penyebaran informasi tentang penggunaan probiotik secara sistematis, agar seluruh petambak di Kalimantan Utara bisa mendapatkan manfaat yang sama. (apc/and)

Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

BERITA POPULER