TARAKAN – Politeknik Bisnis Kaltara menyatakan kekecewaannya, setelah tidak masuk dalam skema penyaluran Beasiswa Kaltara Unggul tahun 2026. Perubahan mekanisme penyaluran bantuan pendidikan yang kini hanya melalui kerja sama dengan tiga perguruan tinggi di Kalimantan Utara, membuat mahasiswa di kampus tersebut kehilangan kesempatan memperoleh beasiswa dari Pemerintah Provinsi Kaltara.
Direktur Politeknik Bisnis Kaltara, Dr. Ana Sriekaningsih, mengatakan pihaknya baru mengetahui bahwa penerima Beasiswa Kaltara Unggul, dibatasi bagi mahasiswa dari perguruan tinggi yang telah menjalin kerja sama dengan Pemprov Kaltara.
“Kecewa pasti ada, karena selama ini setiap tahun mahasiswa kami selalu mendapat Beasiswa Kaltara Cerdas. Memang jumlahnya tidak banyak, tetapi bantuan itu sangat berarti dan menjadi bentuk apresiasi bagi mahasiswa yang berprestasi,” ujarnya, Kamis (23/7/2026).
Menurut Ana, pada tahun-tahun sebelumnya informasi pendaftaran beasiswa dibuka secara umum melalui tautan yang dibagikan Pemprov Kaltara. Pihak kampus kemudian meneruskan informasi tersebut, kepada mahasiswa yang memenuhi syarat agar dapat mengajukan permohonan beasiswa.
Namun, tahun ini mekanisme berubah. Beasiswa hanya dapat diakses mahasiswa dari tiga perguruan tinggi mitra, yakni Universitas Borneo Tarakan (UBT), Universitas Kaltara (Unikaltar), dan Universitas Terbuka (UT).
Ana menilai apabila syarat kerja sama memang menjadi ketentuan baru, seharusnya pemerintah menyosialisasikannya lebih awal sehingga seluruh perguruan tinggi memiliki kesempatan untuk mengajukan kerja sama.
“Kalau sejak awal kami mengetahui syaratnya harus ada kerja sama, tentu kami akan berupaya memenuhinya. Harapannya mahasiswa kami juga tetap bisa memperoleh kesempatan yang sama mendapatkan beasiswa,” katanya.
Meski demikian, ia enggan menyebut kebijakan tersebut sebagai bentuk diskriminasi karena merupakan aturan yang telah ditetapkan pemerintah.
“Saya tidak mengatakan ini diskriminasi. Kalau memang sudah menjadi ketentuan yang tertulis, tentu harus diikuti. Yang kami harapkan adalah kesempatan bagi semua perguruan tinggi untuk bisa menjadi mitra,” jelasnya.
Ia juga menyoroti kondisi mahasiswa Politeknik Bisnis Kaltara yang sebagian besar berasal dari berbagai daerah di Kalimantan Utara. Selain membayar uang kuliah, mereka juga harus menanggung biaya tempat tinggal dan kebutuhan hidup selama menempuh pendidikan di Tarakan.
Di sisi lain, kuota Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah yang diterima kampus pada 2025 juga mengalami penurunan. Kondisi itu membuat semakin banyak mahasiswa yang berharap dapat memperoleh bantuan melalui Beasiswa Kaltara Unggul.
“Mahasiswa angkatan 2025 sebenarnya menunggu kesempatan mendaftar, setelah memiliki indeks prestasi pada semester dua. Tetapi karena aturan baru ini, harapan mereka untuk mendapatkan bantuan tahun ini menjadi hilang,” ungkapnya.
Saat ini Politeknik Bisnis Kaltara memiliki sekitar 150 hingga 200 mahasiswa aktif. Selama beberapa tahun terakhir, sebagian mahasiswa terbantu melalui program KIP Kuliah maupun Beasiswa Kaltara Cerdas.
Untuk itu, pihak kampus berencana berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kaltara, guna mengetahui mekanisme kerja sama agar pada tahun mendatang, Politeknik Bisnis Kaltara dapat menjadi salah satu perguruan tinggi mitra penyalur Beasiswa Kaltara Unggul.
“Kami akan mencoba bersilaturahmi dan meminta arahan kepada Pemprov, mengenai alur kerja sama. Harapan kami, tahun depan mahasiswa kami juga memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh Beasiswa Kaltara Unggul,” tutup Ana.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


