Pengangguran Tarakan Turun ke 5,06 Persen, Terendah dalam 15 Tahun

TARAKAN – Angka pengangguran di Kota Tarakan kembali menunjukkan tren positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Tarakan pada Agustus 2025 berada di angka 5,06 persen atau setara 6.064 orang.

Kepala Badan Pusat Statistik Kota Tarakan, Umar Riyadi menyebut capaian tersebut menjadi yang terendah dalam 15 tahun terakhir untuk kondisi normal. “Kalau dalam kondisi normal, ini merupakan angka pengangguran terendah selama 15 tahun terakhir,” ujarnya.

Umar menjelaskan, sebelumnya Tarakan sempat mencatat angka lebih rendah di kisaran 4,9 persen saat pandemi COVID-19. Namun kondisi tersebut dinilai tidak bisa dijadikan pembanding karena situasi ekonomi saat itu bersifat abnormal.

Dia mengatakan, angka pengangguran Tarakan juga mengalami penurunan dibanding Agustus 2024 yang berada di angka sekitar 6.216 orang. Penurunan itu setara sekitar 0,05 persen.

Menurutnya, data pengangguran diperoleh melalui Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dilaksanakan setiap triwulan.

Namun, untuk potret hingga level kabupaten dan kota, data utama diambil setiap Agustus. “Kalau Sakernas Mei 2026 nanti dirilis, itu masih level nasional. Untuk gambaran kabupaten kota, potret utamanya di Agustus,” jelasnya.

Umar menerangkan, seseorang dikategorikan bekerja apabila melakukan aktivitas untuk memperoleh pendapatan minimal satu jam dalam sepekan secara kumulatif. “Misalnya Senin 15 menit, Selasa 15 menit, terus diakumulasi satu jam dalam seminggu, itu sudah masuk kategori bekerja,” katanya.

Sementara pengangguran adalah mereka yang tidak bekerja namun aktif mencari pekerjaan. Karena itu, seseorang yang tidak bekerja tetapi juga tidak mencari kerja tidak masuk kategori pengangguran terbuka. “Misalnya dia tidak kerja tapi juga tidak mencari kerja, itu tidak masuk pengangguran. Bisa jadi masih ditopang orang tua atau punya tabungan,” ujarnya.

BPS juga menyoroti fenomena anak muda yang tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak mencari kerja. Kondisi tersebut dinilai menjadi perhatian tersendiri ke depan.

Selain menekan angka pengangguran, Umar menekankan pentingnya peningkatan pekerja formal dibanding informal di Tarakan.

Menurutnya, pekerjaan formal lebih menjamin keberlanjutan pendapatan masyarakat. “Kita berharap makin banyak masyarakat bekerja di sektor formal, seperti pegawai tetap, buruh atau karyawan dengan penghasilan tetap. Itu lebih sustainable dibanding informal,” katanya.

Dia menambahkan, pertumbuhan investasi di Tarakan diharapkan mampu membuka lebih banyak lapangan pekerjaan. Salah satu yang mulai terlihat adalah aktivitas SPPG yang disebut merekrut sekitar 40 pekerja di tiap unit. “Informasinya sudah ada 24 yang terdaftar. Tinggal dikalikan saja, itu sudah lumayan banyak menyerap tenaga kerja,” pungkasnya.

Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

16.4k Pengikut
Mengikuti

BERITA POPULER