TARAKAN – Struktur ketenagakerjaan di Kalimantan Utara (Kaltara) saat ini lebih banyak ditopang oleh sektor informal. Akademisi Universitas Borneo Tarakan (UBT) sekaligus pengamat ekonomi, Dr. Margiyono, menyebut kondisi ini menunjukkan lemahnya daya serap sektor formal akibat kemajuan teknologi.
Menurut data BPS yang dikutip Margiyono, pekerja informal di Kaltara mencapai lebih dari 50 persen. Mereka tersebar di sektor perdagangan kecil, kuliner, hingga jasa pinggir jalan.
“Pekerja informal ini paling dominan. Sektor formal justru makin turun karena padat modal dan banyak digantikan teknologi,” jelasnya, Selasa (24/9/2025).
Margiyono mencontohkan, perusahaan telekomunikasi atau perbankan kini hanya butuh sedikit tenaga kerja. Layanan nasabah banyak digantikan aplikasi hingga mesin ATM.
“Ini yang disebut pengangguran struktural atau pengangguran teknologi. Fenomena global, termasuk di Kaltara,” ujarnya.
Margiyono menekankan, ekonomi Kaltara lebih dipengaruhi perbankan ketimbang APBD.
“Belanja pemerintah hanya Rp 3,6 triliun, sementara dana perbankan yang beredar Rp21 triliun. Artinya, 700 persen lebih besar,” ungkapnya.
Namun, dana itu lebih banyak terserap ke sektor jasa lain seperti reparasi elektronik (±Rp7 triliun) dengan tenaga kerja kecil, hanya sekitar 5 ribu orang. Sementara sektor pertanian yang menyerap ±50 ribu pekerja, hanya kebagian sekitar 5 persen dari dana perbankan.
Di sisi lain, usaha kafe, restoran, dan perhotelan di Tarakan menghadapi persaingan ketat. Banyak usaha baru bermunculan, sementara usaha lama gulung tikar. “Fenomenanya tumbuh yang baru, mati yang lama. Akhirnya pekerja hanya berpindah-pindah, bukan bertambah,” kata Margiyono.
Margiyono menegaskan, ketergantungan pada tambang (minyak, gas, batubara) tidak berkelanjutan. Menurutnya, Kaltara harus menyiapkan ekonomi pasca tambang melalui sektor pertanian.
“Kalau tambang habis, kita mau ke mana? Jawabannya pertanian dalam arti luas, dari tanaman pangan, perkebunan, perikanan, peternakan, hingga kehutanan,” jelasnya.
Lebih jauh, ia mendorong agar hasil pertanian dijadikan bahan baku industri. “Kalau pangan surplus, harga stabil, lalu disambut dengan industri hilir. Bisa industri ikan, sawit, kakao, sampai rumput laut. Itu yang bisa menyerap tenaga kerja dan jadi bantalan ekonomi,” pungkasnya.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


