Pedagang Bendera di Tarakan Keluhkan Sepinya Pembeli Tahun Ini

TARAKAN – Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia, para pedagang bendera musiman di Kota Tarakan mengeluhkan minimnya pembeli. Penurunan penjualan tahun ini dinilai cukup drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Wahyu, pedagang asal Bandung yang sudah berjualan di Tarakan sejak 2014, menyebut omzet harian merosot hampir separuh.

“Dulu bisa dapat Rp1 juta sehari, sekarang Rp500 ribu saja belum tentu. Turunnya hampir 50 persen,” ujarnya, Minggu (10/8/2025).

Dia mengatakan, bendera ukuran 1,20 meter dan 1,90 meter biasanya menjadi yang paling laku, disusul bendera kecil untuk motor seharga Rp10.000–Rp12.000. Meski harga tidak naik, pembelian tetap sepi. Bahkan stok yang dibawa tahun ini hanya empat koli, jauh berkurang dari biasanya yang bisa mencapai 10 koli.

Kondisi serupa dialami Leo, pedagang bendera di Jalan Mulawarman. Dia memperkirakan penurunan penjualan mencapai 60 persen. “Dulu mulai tanggal 1 Agustus sudah ramai, sekarang sepi. Pembeli kebanyakan perorangan, belum ada dari instansi,” ungkapnya.

Leo menjual berbagai atribut kemerdekaan mulai dari bendera kecil Rp10.000, bendera tangkai Rp20.000–Rp45.000, umbul-umbul Rp45.000, hingga background merah putih tipe Garuda Rp370.000 per 10 meter. Namun, perputaran barang berjalan lambat.

Dia menegaskan hanya menjual bendera resmi, tanpa desain terlarang seperti yang belakangan ramai di media sosial. “Kita jual bendera resmi saja,” kata Leo. (apc/and)

Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

BERITA POPULER