TANJUNG SELOR – Kebakaran Speedboat Sekatak AA di Salimbatu, Kecamatan Tanjung Palas Tengah, Kabupaten Bulungan, beberapa hari lalu menyisakan tanda tanya bagi publik.
Pertanyaan kemudian muncul, apakah tidak ada Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di dalam speedboat, yang bisa digunakan untuk mengatasi kebakaran agar tidak meluas hingga membakar seluruh badan kapal.
Menjawab pertanyaan itu, Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Kelas II Tanjung Selor, Ujang Sunardi, membenarkan bahwa terdapat APAR di dalam speedboat Sekatak AA. Totalnya ada empat APAR, sebagian di antaranya sempat digunakan, sementara beberapa lainnya tidak sempat dipakai.
“Letaknya di bagian belakang speedboat ada dua dan dua lainnya ada di bagian depan. Totalnya ada empat APAR,” tukasnya.
Namun, keberadaan APAR tersebut dinilai belum mampu mengatasi dan meredam kobaran api. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, sumber kebakaran berasal dari tempat dudukan mesin generator yang disatukan dengan bodi top deck speedboat Sekatak AA.
“Setelah musibah ini kami merekomendasikan untuk pemasangan plat supaya mesin generator ini tidak bersentuhan langsung dengan bodi top deck speedboat,” ucapnya.
Pasalnya, plat yang akan dipasang nantinya didesain tahan api sehingga ketika terjadi percikan api, material tersebut tidak mudah terbakar.
“Pemasangan plat supaya tidak terjadi sentuhan langsung dan plat itu nanti dibungkus dengan asbes atau bahan tahan api. Jadi saat percikan api, itu tidak langsung jatuh ke bodi kapal,” jelasnya.
Mengenai APAR yang masih utuh, kata dia, sebenarnya APAR tersebut masih bisa digunakan. Namun, saat kejadian, langkah utama yang dilakukan adalah menyelamatkan penumpang agar tidak terjadi korban jiwa dengan segera menepikan speedboat.
“Karena kejadian yang kemarin itu untuk menyelamatkan supaya tidak terjadi korban jiwa, makanya langsung menepi. Apalagi fiber ini bahan yang mudah terbakar,” katanya.
Terkait kelaikan Speedboat Sekatak AA saat beroperasi, dia menjelaskan bahwa secara perizinan, pemeriksaan dan pembaruan dilakukan setiap tahun.
“Kami sudah membuat imbauan dan berkolaborasi dengan KSOP Tarakan. Jadi, kami minta bantuan KSOP Tarakan supaya penempatan generator itu harus dipasang plat, sehingga tidak langsung bersentuhan dengan bodi kapal,” tandasnya. (*)
Penulis: Martinus
Editor: Yusva Alam


