TARAKAN – Kelebihan pasokan atau over supply sapi menjelang Iduladha 2026 mulai menekan harga ternak di tingkat peternak lokal di Kota Tarakan. Masuknya sapi dari luar daerah dalam jumlah besar dinilai membuat harga jual sapi lokal sulit bersaing.
Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kalimantan Utara, Ichi Langlang Buana Machmud mengatakan kondisi over supply terjadi ketika jumlah sapi yang masuk melebihi kebutuhan pasar.
“Kalau kebutuhan 1.300 ekor tapi yang masuk 2.000 ekor, itu over supply. Dampaknya pasti ke harga, dan peternak lokal yang paling terdampak,” ujarnya, Senin (11/5/2026).
Dia menjelaskan, sapi yang masuk ke Kalimantan Utara saat ini mayoritas berasal dari Gorontalo dan Toli-toli. Seluruh ternak wajib menjalani pemeriksaan dokumen dan kesehatan di pelabuhan resmi sebelum didistribusikan. “Di kami itu dicek semua, dokumen harus sesuai, jenis dan jumlah harus benar, termasuk kondisi fisiknya. Kalau tidak sesuai, tidak bisa diloloskan,” katanya.
Menurutnya, terdapat delapan titik resmi pemasukan dan pengeluaran hewan di Kaltara yang berada di bawah pengawasan petugas karantina. Selain pengawasan di pelabuhan, pihak karantina juga menyoroti pentingnya keberadaan Instalasi Karantina Hewan (IKH) di Tarakan, Nunukan, dan Sebatik.
Saat ini, pemeriksaan lanjutan masih dilakukan di kandang penampungan milik mitra dengan sistem pengawasan dan penyegelan bila diperlukan. “Kalau ada indikasi penyakit atau perlu pemeriksaan lanjutan, kami segel dulu kandangnya supaya tidak dipindahkan. Segel tidak boleh dibuka sembarangan,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Koperasi Sahabat Maju Sejahtera, Syamsurijal mengaku peternak lokal mulai merasakan dampak masuknya sapi dari luar daerah dengan harga lebih murah.
Menurutnya, peternak lokal membutuhkan waktu 10 bulan hingga satu tahun untuk menghasilkan sapi siap jual. Namun, sapi dari luar daerah dengan bobot serupa dijual lebih murah di pasaran. “Kalau dihitung normal, harga bisa di kisaran Rp25 juta. Tapi sapi dari luar masuk dengan bobot yang sama, dijual sekitar Rp23 juta. Ini membuat peternak lokal dirugikan,” katanya.
Dia menyebut biaya produksi peternak mencapai Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per ekor per bulan. Dalam satu siklus pemeliharaan, biaya yang dikeluarkan bisa mencapai jutaan rupiah, belum termasuk tenaga kerja dan risiko usaha. “Kami mempekerjakan empat sampai lima orang tenaga kerja. Gajinya sekitar Rp4 juta per bulan. Ini yang sering tidak diperhitungkan dalam kebijakan,” tambahnya.
Peternak berharap ada sinkronisasi data kebutuhan ternak dan penguatan fasilitas karantina, agar distribusi sapi dari luar daerah tetap terkendali tanpa merugikan peternak lokal. “Kami berharap ada fasilitas karantina yang benar-benar layak, sehingga sapi yang masuk bisa diperiksa dan dirawat dulu sebelum didistribusikan. Dengan begitu semua pihak bisa diuntungkan,” pungkasnya.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


