TARAKAN – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Utara mencatat adanya net outflow atau selisih negatif antara uang keluar dan masuk sebesar Rp152,32 miliar pada Juni 2025.
Berdasarkan data BI Kaltara, arus uang keluar (outflow) pada bulan tersebut mencapai Rp235,30 miliar, turun 7,12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy).
Sementara itu, uang yang masuk (inflow) tercatat Rp82,98 miliar, justru tumbuh positif sebesar 3,40 persen (yoy).
“Net outflow ini menggambarkan tingginya permintaan uang tunai masyarakat, khususnya untuk kebutuhan setelah libur panjang Idul Adha dan musim libur sekolah,” ujar Kepala KPwBI Kaltara, Hasiando G. Manik, Kamis (18/7/2025).
BI Kaltara juga memastikan ketersediaan uang tunai dalam kondisi layak edar. Untuk itu, pihaknya secara rutin melakukan dropping dan penarikan uang, termasuk menarik uang yang tidak layak edar.
“Kami lakukan distribusi uang melalui tiga Kas Titipan Bank Indonesia yang ada di Tanjung Selor, Malinau, dan Nunukan, sesuai kebutuhan masing-masing wilayah,” jelas Hasiando.
Langkah ini dilakukan untuk menjaga kelancaran transaksi tunai di masyarakat, sekaligus memastikan kualitas uang yang beredar tetap baik.
Tak hanya transaksi tunai, digitalisasi sistem pembayaran juga terus berkembang di Kaltara. Per Mei 2025, jumlah pengguna QRIS di provinsi ini mencapai 124.543 pengguna, meningkat 3.106 pengguna dibandingkan posisi per 31 Desember 2024.
“Peningkatan pengguna QRIS mencerminkan pergeseran masyarakat menuju transaksi non-tunai yang lebih praktis dan efisien,” tambah Hasiando. (apc/and)
Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika


