TARAKAN – Hujan deras yang mengguyur Kota Tarakan sejak subuh berubah menjadi mimpi buruk bagi warga RT 26, Kelurahan Sebengkok.
Sekitar pukul 06.00 WITA, tembok samping rumah milik Chandra Refiandi, warga Jalan Sebengkok No. 72, jebol dihantam aliran air deras yang tak terbendung, Rabu (6/8/2025).
Hanya berdua bersama adiknya di dalam rumah, dia nyaris tak percaya dinding rumahnya tiba-tiba runtuh, diterjang longsor dari lereng bukit yang mengintai diam-diam.
“Telah terjadi tembok rumah yang roboh atau jebol, akibat tergerus air hujan yang cukup deras dari tadi subuh, sehingga mengakibatkan dinding tembok yang ada di rumah warga itu jebol,” ungkap Lurah Sebengkok, Aji Dedy Effendi Aspiannur, yang turun langsung meninjau lokasi tanah longsor.
Menurutnya, lokasi rumah berdiri di kawasan lereng yang rentan dan selama ini tidak memiliki saluran drainase yang memadai. Air hujan mengalir begitu saja, langsung menghantam tembok rumah tanpa peredam, hingga akhirnya struktur bangunan tak sanggup lagi bertahan.
“Tidak ada parit di sebelah tembok itu, jadi air langsung menghantam rumah,” katanya.
Lurah pun langsung menginstruksikan pemilik rumah untuk segera mengevakuasi diri, dan memindahkan barang-barang penting ke tempat aman.
Dia juga meminta Ketua RT untuk mengusulkan pembangunan saluran drainase permanen dalam Musrenbang yang akan datang. Untuk saat ini, solusi sementara yang ditawarkan adalah kerja bakti warga membuat saluran darurat guna mencegah kerusakan lebih lanjut.
Sementara itu, BPBD Tarakan disebut sudah siap memberikan bantuan darurat seperti material bangunan seperti kayu, papan, dan balok untuk menahan longsoran dan memperbaiki kerusakan sementara. Sebelumnya, pola bantuan ini sudah dilakukan di RT 20, dan akan kembali diusulkan untuk lokasi ini melalui kelurahan.
Hingga berita ini ditulis, hanya titik longsor di RT 26 yang dilaporkan mengalami kerusakan cukup parah, sementara wilayah lain hanya tergenang air tanpa dampak signifikan.
Namun warga diminta tetap siaga. Lereng bukit yang selama ini tampak tenang, kini menunjukkan wajahnya yang sesungguhnya. Hujan tak lagi sekadar basah, tapi juga bisa membawa bencana.
“Nanti ke depannya dari pihak BPBD akan melakukan survei dan pemasangan klang tanda bahaya rawan bencana kepada masyarakat, sehingga masyarakat yang ingin membangun harus memiliki izin dan juga melakukan antisipasi atau tindakan-tindakan yang mengakibatkan longsor ataupun banjir, yang mengakibatkan kerjaan yang lebih besar,” tutupnya.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


