TARAKAN – Koperasi Merah Putih (KMP) Selumit, Kota Tarakan menargetkan lonjakan produksi pupuk organik hingga 10 ton per bulan.
Namun, keterbatasan alat dan fasilitas menjadi penghambat utama. Saat ini, koperasi hanya mampu memproduksi maksimal 4 ton pupuk per bulan karena masih mengandalkan cuaca dalam proses pengeringan bahan.
“Kami menargetkan peningkatan produksi hingga 10 ton per bulan, tapi itu hanya bisa tercapai jika kami memiliki ruang pengering, alat packing, dan mesin pemrosesan tambahan,” ujar Ketua KMP Selumit, Saifullah, di Tarakan, baru-baru ini.
Koperasi menghitung, kebutuhan modal awal untuk memenuhi target tersebut mencapai sekitar Rp500 juta.
“Kalau untuk pupuk ini sendiri ini sekitar 500 juta,” ucapnya.
Dana itu dibutuhkan untuk membeli peralatan utama seperti ruang pengering dan alat pemrosesan pupuk. Terlebih saat ini semuanya masih manual.
“Kalau cuaca mendung atau hujan, bahan tidak bisa kering sempurna. Produksi tertunda. Karena itu, ruang pengering jadi kebutuhan mendesak,” katanya.
Dari target produksi 10 ton per bulan, KMP memproyeksikan pemasukan sebesar Rp250 juta hingga Rp300 juta per bulan, dengan asumsi harga jual pupuk organik berkisar Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram.
Selama ini, produksi pupuk dilakukan tanpa pinjaman atau bantuan dari pihak luar. Semuanya murni dari swadaya pengurus. Namun, untuk naik level, koperasi sedang menunggu petunjuk teknis dari pemerintah terkait skema pinjaman melalui Himbara maupun dukungan dari pemerintah kota.
“Alhamdulillah, kami sudah mendapat fasilitas tempat dari pemerintah kota. Kami bersyukur, tapi tentu masih butuh dukungan alat agar kapasitas produksi bisa naik,” ujarnya.
Koperasi juga berharap bisa menjadi pusat distribusi pupuk dan barang kebutuhan pokok ke koperasi-koperasi lain di Tarakan. Dengan jaringan yang sudah terbangun dan pengalaman menjadi agen barang subsidi dan non-subsidi, Saifullah yakin KMP bisa jadi motor penggerak ekonomi berbasis masyarakat di Kota Tarakan. (apc/and)
Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika


