TARAKAN – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Tarakan, telah mencapai 36 titik dengan total luasan lahan terbakar sekitar 80 hektare dalam beberapa bulan terakhir.
Kepala Pelaksana BPBD Tarakan, Yonsep, mengatakan seluruh kejadian tersebut tersebar di sejumlah wilayah, terutama Kecamatan Tarakan Utara dan Tarakan Timur.
“Untuk karhutla, mulai tanggal 9 sudah zero kejadian atau tidak ada lagi titik kebakaran,” kata Yonsep, Senin (14/9/2026).
Meski saat ini tidak terdapat titik kebakaran aktif, BPBD tetap mewaspadai potensi karhutla. Pasalnya, kondisi kekeringan masih terjadi di Tarakan dan dapat membuat lahan mudah terbakar.
Menurut Yonsep, kondisi lahan yang kering membuat api cepat menyebar. Bahkan, dalam kondisi tanpa hujan selama beberapa hari, lahan terbuka di Tarakan dapat dengan cepat kehilangan kelembapannya.
“Karena kekeringan, lahan terbuka, begitu ada pemicu api, cepat sekali menyebar. Kondisi di Tarakan ini kan pasir dan kering. Tidak ada hujan dua hari saja sudah kering,” ujarnya.
Dari puluhan kejadian tersebut, salah satu kebakaran dengan luasan terbesar terjadi di kawasan Jalan Permain dengan luas sekitar 16 hektare.
BPBD juga mencatat sejumlah kebakaran sempat berdampak terhadap bangunan milik masyarakat. Di antaranya dua pondok dan satu kandang ayam yang ikut terbakar, meski tidak sampai habis karena berhasil ditangani petugas.
Yonsep mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan. Menurutnya, masyarakat tetap perlu diberikan ruang untuk mengelola lahan, tetapi aktivitas pembakaran harus dilakukan secara terkendali.
“Bukan berarti masyarakat tidak boleh membakar. Yang kita ingatkan adalah membakar dengan cara yang tertata, skalanya kecil dan ada pembatasan supaya tidak meluas,” jelasnya.
BPBD juga mendorong kelompok tani menyediakan sumber air, seperti kolam, serta memiliki pompa portable untuk melakukan pemadaman awal ketika api mulai muncul.
Yonsep mencontohkan keberadaan kolam milik kelompok tani di kawasan Sungai Kuliah, yang telah membantu proses pemadaman saat terjadi kebakaran. “Kolam itu sudah terbukti. Saat terjadi kebakaran, kita bisa mengambil air dari sana menggunakan pompa portable, sehingga penanganannya lebih cepat,” pungkasnya.
Pewarta: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


