NUNUKAN – Desa Srinanti, Kecamatan Sei Menggaris, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara), dibidik menjadi desa wisata berkelanjutan berbasis ekowisata mangrove. Upaya ini dilakukan melalui kegiatan survei dan pemetaan kawasan mangrove oleh tim pengabdian masyarakat Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Brawijaya (UB), yang berlangsung pada 5–9 Januari 2026.
Desa Srinanti merupakan desa transmigrasi di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia yang memiliki kawasan mangrove alami luas. Namun, keterbatasan aksesibilitas dan fasilitas dasar masih menjadi tantangan, mengingat sebagian besar kebutuhan masyarakat bergantung pada Ibu Kota Kabupaten Nunukan yang terpisah oleh laut.
Melalui program Desa Binaan ITB, tim pengabdian masyarakat mengawali kegiatan dengan Focus Group Discussion (FGD) atau diskusi kelompok terarah bersama masyarakat dan pemangku kepentingan desa. FGD ini bertujuan menyepakati wilayah pengelolaan kawasan mangrove desa agar tidak terjadi tumpang tindih pengelolaan dengan pihak lain.
Dosen Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya, Esa Fajar Hidayat, mengatakan kesepakatan wilayah pengelolaan menjadi fondasi penting pengembangan ekowisata.
“Melalui FGD, kami menyepakati batas wilayah pengelolaan kawasan mangrove milik desa. Ini penting sebagai dasar pengelolaan yang berkelanjutan,” ujarnya, Senin (12/1/2026).
Setelah kesepakatan tercapai, kegiatan dilanjutkan dengan survei susur mangrove sepanjang sekitar 16 kilometer menggunakan kapal tingting. Dalam survei tersebut dilakukan geotagging atau penandaan titik koordinat berbagai spesies mangrove serta pencatatan biodiversitas lain, seperti habitat bekantan dan burung.
“Data hasil survei ini akan digunakan untuk perhitungan biomassa mangrove dan potensi penyerapan karbon, khususnya pada kawasan mangrove primer yang dikelola desa,” kata Esa.
Seluruh data hasil survei direncanakan dimasukkan ke dalam Portal WebGIS Srinanti, yakni sistem informasi geografis berbasis web (Web-based Geographic Information System) yang dikembangkan sebagai basis data dan alat perencanaan ekowisata. Portal ini juga akan memuat peta karbon serta rencana rute susur mangrove sebagai daya tarik wisata.
Selain pemetaan ekosistem, tim juga melakukan pendataan dan geotagging fasilitas penunjang pariwisata, seperti penginapan, tempat ibadah, rumah makan, sekolah, dan pertokoan. Pendataan ini menjadi dasar perencanaan pengembangan sarana informasi wisata dan fasilitas pendukung lainnya.

Upaya penguatan kapasitas masyarakat juga dilakukan melalui pelatihan pembuatan konten digital. Pelatihan ini menyasar pemuda desa agar mampu mempromosikan potensi ekowisata mangrove secara mandiri melalui media sosial dan platform digital.
Kepala Desa Srinanti, Rusmini, menyatakan desanya memiliki kawasan mangrove terbesar di Kecamatan Sei Menggaris. Menurutnya, potensi tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat jika dikelola secara berkelanjutan.
“Saya berharap kegiatan pengabdian masyarakat ini menjadi langkah awal bagi Desa Srinanti untuk berkembang menjadi desa yang mandiri dan berdaya saing,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) Desa Srinanti, Rici Sugianto, menegaskan bahwa pengembangan ekowisata membutuhkan kolaborasi dan kesiapan bersama.
“Potensi alam sudah ada, tetapi ekowisata akan terwujud jika masyarakat terlibat aktif dan fasilitas pendukung disiapkan secara bertahap,” katanya.
Melalui rangkaian kegiatan ini, Desa Srinanti diharapkan memiliki dasar kuat untuk mengembangkan ekowisata mangrove yang berkelanjutan, berbasis data, sekaligus memperkuat ekonomi desa dan ketahanan wilayah perbatasan.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


