TARAKAN – Kota Tarakan mencatat inflasi tahunan tertinggi dibandingkan wilayah Indeks Harga Konsumen (IHK) lainnya di Kalimantan Utara (Kaltara) pada Agustus 2026. Inflasi Tarakan secara tahunan mencapai 2,91 persen.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Utara Agus Taufik mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Tarakan secara bulanan pada Agustus 2026 tercatat sebesar 0,24 persen (mtm).
Sementara itu, inflasi Tarakan secara tahun kalender mencapai 1,53 persen (ytd). “Inflasi Kaltara pada Agustus 2026 masih terjaga dalam kisaran sasaran nasional. Namun, terdapat sejumlah komoditas yang memberikan tekanan terhadap inflasi,” kata Agus Taufik, Rabu (2/9/2026).
Dibandingkan dua wilayah IHK lainnya, inflasi tahunan Tarakan tercatat paling tinggi. Nunukan mengalami inflasi tahunan sebesar 1,28 persen, sedangkan Tanjung Selor sebesar 1,44 persen.
Secara keseluruhan, gabungan tiga wilayah IHK Kaltara mencatat inflasi bulanan sebesar 0,23 persen. Inflasi tahunan Kaltara berada di angka 2,17 persen, sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 1,44 persen.
Agus menjelaskan, sejumlah komoditas menjadi penyumbang inflasi Kaltara pada Agustus 2026. Angkutan laut menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,12 persen.
Selanjutnya, daging ayam ras memberikan andil 0,05 persen, sawi hijau 0,04 persen, kangkung 0,03 persen, serta pemeliharaan atau servis kendaraan sebesar 0,02 persen.
Kenaikan tarif angkutan laut, kata Agus, berkaitan dengan normalisasi harga setelah berakhirnya program diskon tiket transportasi.
Di sisi lain, sejumlah komoditas turut menahan laju inflasi. Tomat menjadi komoditas dengan andil deflasi terbesar, yakni -0,12 persen. Kemudian bawang merah -0,07 persen, angkutan udara -0,04 persen, bensin -0,01 persen, dan beras -0,01 persen.
Penurunan tarif angkutan udara juga menjadi salah satu faktor yang menahan tekanan inflasi. Kondisi tersebut dipengaruhi penurunan harga avtur yang berdampak terhadap berkurangnya biaya operasional maskapai.
Agus menilai perkembangan harga komoditas pangan dan transportasi masih perlu mendapat perhatian, khususnya untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
“Pengendalian inflasi perlu terus diperkuat melalui sinergi seluruh pihak, terutama dalam menjaga ketersediaan dan kelancaran distribusi komoditas yang berpengaruh terhadap inflasi,” ujarnya.
Pewarta: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


