Inflasi Tarakan Naik, Kesehatan Jadi Pendorong Utama

TARAKAN – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan mencatat inflasi year on year (y-on-y) pada September 2025 mencapai 2,46 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 106,92. Angka ini naik dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 1,59 persen, dan juga lebih tinggi dari September 2023 yang tercatat 2,28 persen.

Kepala BPS Tarakan, Umar Riyadi, menjelaskan kenaikan inflasi terjadi akibat meningkatnya harga di sejumlah kelompok pengeluaran. Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok kesehatan sebesar 12,69 persen, disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 10,21 persen, serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik 4,62 persen.

Kelompok lain yang juga mencatat kenaikan yakni rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 2,37 persen, penyediaan makanan dan minuman restoran 1,99 persen, pendidikan 0,62 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,47 persen.

“Selanjutnya, informasi dan komunikasi 0,34 persen, serta perlengkapan rumah tangga 0,11 persen,” ujarnya, Jumat (3/10/2025).

Sementara itu, dua kelompok justru mengalami penurunan indeks, yakni pakaian dan alas kaki turun 0,93 persen, serta transportasi yang turun lebih dalam hingga 3,14 persen.

Dari sisi komoditas, sejumlah barang dan jasa yang paling mendorong inflasi antara lain emas perhiasan, tarif rumah sakit, ikan bandeng, bawang merah, ikan layang, beras, minyak goreng, kopi bubuk, air kemasan, hingga krim wajah. Komoditas lain seperti nasi dengan lauk, udang basah, tomat, bayam, dan jasa tukang bukan mandor juga ikut berkontribusi.

Sedangkan penyumbang deflasi berasal dari angkutan udara, cabai rawit, bensin, pengharum cucian, sawi hijau, ikan kakap putih, baju muslim anak, bahan bakar rumah tangga, hingga cabai merah dan bawang putih.

Untuk inflasi month to month (m-to-m), BPS mencatat kenaikan 0,35 persen pada September 2025. Pendorong utamanya antara lain emas perhiasan, air kemasan, daging ayam ras, sawi hijau, ikan bandeng, bayam, dan cabai rawit. Sementara penyumbang deflasi m-to-m di antaranya angkutan udara, bawang merah, tomat, wortel, dan cabai merah.

“Bila dilihat dari andilnya terhadap inflasi y-on-y, kelompok makanan, minuman dan tembakau memberi kontribusi terbesar sebesar 1,34 persen, disusul perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,87 persen dan kesehatan 0,36 persen,” paparnya.

Sedangkan kelompok yang menahan inflasi adalah transportasi dengan andil deflasi 0,40 persen, serta pakaian dan alas kaki sebesar 0,05 persen.

Secara kumulatif, inflasi year to date (y-to-d) Tarakan hingga September 2025 mencapai 1,85 persen, naik dibanding periode yang sama tahun lalu 0,99 persen dan sedikit lebih tinggi dari capaian 2023 sebesar 1,79 persen. (apc/and)

Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

BERITA POPULER