Hujan Mulai Turun, Status Siaga Kekeringan Tarakan Tak Diperpanjang

TARAKAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan memutuskan tidak memperpanjang status siaga kekeringan, setelah kondisi air baku mulai kembali normal. Hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir membuat cadangan air di embung mulai terisi.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tarakan, Abd. Azis, mengatakan keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil kaji cepat dan evaluasi tim, yang sebelumnya menangani kondisi kekeringan di Tarakan.

“Rekomendasinya, status siaga itu tidak perlu diperpanjang. Jadi sekarang kita sudah normal kembali,” kata Abd. Azis, Senin (28/9/2026).

Menurutnya, kondisi sumber air baku yang digunakan untuk Instalasi Pengolahan Air (IPA) juga mulai membaik. Berdasarkan informasi yang diterima pemerintah kota, tampungan air di embung sudah kembali terisi, sehingga pelayanan air bersih dapat berjalan.

“Sebagian besar sudah normal,” ujarnya.

Meski demikian, Abd. Azis menyebut masih terdapat sejumlah wilayah yang sebelumnya terdampak kekeringan, sehingga pelayanan air bersih sempat dilakukan secara bergiliran.

Pemkot juga mempertimbangkan informasi cuaca dari BMKG, yang menunjukkan peluang hujan mulai meningkat. “Karena dari BMKG prediksi hujannya sekarang kemungkinan akan semakin sering, kita perkirakan status ini sudah tidak perlu lagi diperpanjang,” jelasnya.

Abd. Azis menjelaskan, penetapan status siaga kekeringan sebelumnya bukan dilakukan tanpa dasar. Pemerintah memiliki dokumen Kajian Risiko Bencana, Rencana Penanggulangan Bencana dan Rencana Kontingensi yang menjadi acuan dalam menentukan langkah penanganan.

Dalam Rencana Kontingensi Kota Tarakan, kekeringan menjadi salah satu kondisi yang memiliki indikator khusus. Ketika hari tanpa hujan mencapai sekitar 10 hingga 15 hari, BPBD harus segera melakukan kaji cepat dengan melibatkan sejumlah pihak, termasuk PDAM dan BMKG.

Saat kondisi kekeringan terjadi, PDAM juga melaporkan kemampuan pelayanan telah turun hingga sekitar 50 persen. Jika tidak kembali turun hujan dalam beberapa hari, kemampuan pelayanan dikhawatirkan bisa kembali merosot hingga sekitar 20 persen bahkan 10 persen.

Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah, dalam menetapkan status siaga dan mengambil langkah penanganan.

Saat ini, kondisi cadangan air dinilai sudah mencukupi untuk kebutuhan masyarakat. Namun, kemampuan tampungan air Tarakan masih menjadi perhatian, karena berdasarkan perhitungan dalam rencana kontingensi, cadangan yang tersedia diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar 15 hari tanpa hujan.

“Kalau sampai lima hari tanpa hujan, berarti kita harus kembali ke siaga darurat,” ujarnya.

Karena itu, Pemkot Tarakan masih melihat perlunya penguatan sumber air baku untuk menghadapi potensi kekeringan berikutnya, terutama karena kebutuhan air masyarakat terus meningkat.

Abd. Azis menyebut, penambahan kapasitas tampungan melalui pembangunan embung menjadi salah satu opsi yang dapat dilakukan secara bertahap.

Saat ini, embung yang dimiliki Pemerintah Kota Tarakan hanya Embung Persemaian. Sementara sejumlah embung lainnya merupakan aset Balai Wilayah Sungai (BWS) atau pemerintah pusat.

“Kalau berdasarkan kajian BWS, minimal Tarakan ini seharusnya punya cadangan air yang lebih panjang. Sekarang baru sekitar 10 sampai 15 hari, jadi memang kekuatannya belum mencukupi,” pungkasnya.

Pewarta: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

BERITA POPULER