TARAKAN – Proses rekrutmen Kepala Sekolah Rakyat di Kota Tarakan akhirnya rampung. Dari delapan kandidat yang diajukan, kini hanya tersisa satu nama yang ditetapkan Kementerian Sosial RI, yakni Marissa Auliah, guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 2 Tarakan.
“Dari delapan calon yang kita ajukan, diseleksi lagi jadi empat, kemudian tiga, dan terakhir keluar satu nama, yaitu Marissa Auliah. Kemarin beliau sudah menerima surat pemanggilan pembekalan di Pusdiklat Kementerian Sosial,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Tamrin Toha, Selasa (19/8/2025).
Marissa saat ini tengah mengikuti pembekalan di Pusat Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan Profesi (Pusdiklat) Kemensos RI Kementerian Sosial, Jakarta, mulai 18 hingga 23 Agustus 2025. Setelah selesai, ia akan resmi menjabat sebagai Kepala Sekolah Rakyat di Tarakan.
Menurut Tamrin, status Marissa nantinya akan menjadi pegawai Kementerian Sosial, namun tetap bertugas di Tarakan sesuai lokasi sekolah berada.
“Ya, informasi yang kami terima memang beliau akan menjadi pegawai Kementerian Sosial, tapi tetap bertugas di Tarakan,” tambahnya.
Sekolah Rakyat rintisan tahap kedua ini direncanakan mulai beroperasi pada awal September 2025, dengan jumlah siswa sebanyak 100 orang.
Sementara untuk ketersediaan guru Sekolah Rakyat, kata dia, akan merekrut PNS atau P3K yang ada di Kota Terakan. Namun lebih lanjut, pihaknya masih menunggu instruksi dari Pemerintah Pusat.
“Tapi sampai sekarang belum ada informasi ya. Kita menunggu petunjuk selanjutnya dari Kementerian Sosial,” katanya.
Sebagai informasi, kegiatan pembelajaran Sekolah Rakyat sementara akan dilaksanakan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Lembaga Latihan Kerja (LLK) milik Dinas Perindustrian dan Ketenagakerjaan Kota Tarakan.
Sekolah Rakyat di Tarakan menyediakan empat ruang kelas, dua untuk jenjang SD dan dua untuk jenjang SMP, dengan masing-masing kelas menampung 25 siswa. Fasilitas pendukung seperti asrama, ruang makan, dapur, dan ruang guru juga disiapkan. Sekolah Rakyat ini merupakan program pemerintah kota untuk anak-anak dari keluarga miskin ekstrem.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


