Gempa di Tarakan Terjadi Hampir Tiap Tahun, Mayoritas Skala Kecil

TARAKAN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan mencatat aktivitas gempa bumi di wilayah Kota Tarakan dan Kalimantan Utara tetap terjadi hampir setiap tahun. Namun, sebagian besar gempa yang terekam memiliki magnitudo kecil dan tidak dirasakan oleh masyarakat.

Kepala BMKG Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi, menyebutkan sepanjang 2025 tercatat sembilan kejadian gempa di wilayah Tarakan. Dari jumlah tersebut, satu gempa tercatat sebagai yang terbesar dengan magnitudo 4,8 yang terjadi pada 5 November 2025 pukul 17.37 Wita. Sementara gempa lainnya berada pada skala kecil.

Meski sebagian besar tidak dirasakan, seluruh aktivitas gempa tersebut tetap terekam oleh peralatan seismograf BMKG dan menjadi bahan evaluasi serta pemantauan. “Hampir setiap tahun di Tarakan tetap ada gempa. Namun skalanya kecil dan umumnya tidak dirasakan oleh masyarakat,” kata Sulam Khilmi, Selasa (6/1/2026).

Dia menjelaskan, gempa yang sering terjadi di wilayah Tarakan umumnya berada pada kisaran magnitudo rendah, sekitar 2 hingga 3. Karena tidak menimbulkan getaran yang dirasakan masyarakat, informasi gempa kecil tersebut tidak selalu disampaikan ke publik. “Kalau gempanya kecil dan tidak terasa, biasanya hanya menjadi catatan internal kami,” ujarnya.

BMKG menjelaskan besar kecilnya magnitudo gempa dipengaruhi oleh energi yang dilepaskan akibat pergerakan lempeng bumi. Seluruh lempeng terus bergerak dan berupaya mencapai keseimbangan, sehingga pelepasan energi dalam bentuk gempa tidak dapat dihindari.

“Lempeng-lempeng bumi ini selalu bergerak. Saat terjadi pelepasan energi, itulah yang kita rasakan sebagai gempa bumi,” jelas Sulam Khilmi.

Meski Kalimantan kerap disebut sebagai wilayah yang relatif aman dari gempa, BMKG menegaskan tidak ada daerah yang benar-benar bebas dari potensi gempa bumi. Kalimantan hanya memiliki frekuensi kejadian gempa yang lebih rendah dibanding wilayah lain di Indonesia. “Kalau dibandingkan dengan Sumatera, Jawa, Bali, atau Nusa Tenggara yang berada di cincin api, Kalimantan memang paling jarang. Tapi bukan berarti tidak ada potensi gempa sama sekali,” tegasnya.

BMKG membagi wilayah Indonesia ke dalam beberapa zona aktivitas gempa. Zona dengan frekuensi tertinggi berada di Sumatera, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Zona berikutnya meliputi Sulawesi, Maluku, dan Papua, sementara Kalimantan berada pada zona dengan frekuensi terendah.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik apabila terjadi gempa kecil. Namun, edukasi kebencanaan tetap penting agar masyarakat memahami langkah-langkah penyelamatan diri jika suatu saat terjadi gempa dengan kekuatan lebih besar. “Masyarakat cukup waspada dan memahami mitigasi dasar gempa bumi. Informasi resmi selalu kami sampaikan melalui kanal BMKG,” pungkasnya. (apc/and)

Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

16.4k Pengikut
Mengikuti

BERITA POPULER