Ekspedisi Rupiah di Kaltara, Tempuh 455 Mil Laut Menuju Wilayah 3T

TARAKAN – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) bersama Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) XIII Tarakan, resmi memulai Ekspedisi Rupiah Berdaulat pada Selasa, (15/7/2025).

Selama enam hari ke depan, ekspedisi ini akan menempuh rute sepanjang 455 nautical mile menggunakan KRI Singa-651.

Misi akan menyusuri pulau-pulau Terdepan, Terpencil, dan Terluar (3T) seperti Pulau Bunyu, Sebatik, Derawan, Maratua, hingga Teluk Sulaiman.

Tujuan utama ekspedisi adalah menjamin ketersediaan uang rupiah yang layak edar, serta mencukupi kebutuhan masyarakat di seluruh pelosok Nusantara.

“Karena kami memandang Kalimantan Utara memiliki karakteristik kewilayahan yang sangat strategis, sebagai wilayah yang berbatasan dengan wilayah negara tetangga, di mana kita memastikan bahwa rupiah itu beredar di seluruh wilayah NKRI, dan dapat diakses oleh seluruh penduduk Indonesia tentunya termasuk di wilayah 3T,” jelas Kepala Grup Departemen Pengelolaan Uang BI, Hari Widodo.

Dalam ekspedisi ini, BI membawa uang tunai sebesar Rp5 miliar untuk keperluan penukaran uang yang tidak layak edar. Tak hanya itu, kegiatan edukasi publik bertema Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah juga menjadi bagian penting dalam pelayaran ini.

Edukasi ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai ciri-ciri keaslian rupiah, dan pentingnya memperlakukan uang nasional dengan baik.

“Jadi bagaimana kita memperkenalkan rupiah kepada masyarakat, agar masyarakat mengetahui ciri-ciri keaslian uang rupiah dan kemudian juga dapat memperlakukan rupiah dengan baik. Artinya kita melakukan edukasi itu supaya masyarakat juga ikut menjaga uang rupiah,” ucap Hari.

Sementara itu, Komandan Lantamal XIII Tarakan, Laksamana Pertama TNI Ferry Supriady, menjelaskan, kapal yang digunakan adalah KRI Singa-651, kapal cepat torpedo buatan Jerman tipe FPB 6572 yang dirakit di Petepal.

“Angkatan Laut kita mengirimkan KRI Singa 651. KRI Singa ini merupakan kapal cepat torpedo yang berada di wilayah Koarmada 2,” katanya.

Kapal tersebut membawa total 70 personel gabungan, terdiri atas 58 kru KRI dan 15 personel dari BI. Selama pelayaran hingga 21 Juli nanti, mereka juga dilengkapi perlengkapan persenjataan untuk memastikan keamanan ekspedisi.

“Personel juga dilengkapi senjata. Waktu yang diperlukan 6 hari untuk menyelesaikan rutenya, kemudian nanti kembali ke Tarakan,” tambah Ferry.

Apresiasi terhadap sinergi lintas instansi disampaikan oleh Asisten Administrasi Umum Setdaprov Kaltara, Pollymaart Sijabat, mewakili Gubernur Kalimantan Utara. Dia menilai kolaborasi antara BI, TNI AL, dan Pemprov Kaltara sebagai langkah nyata kehadiran negara di wilayah perbatasan.

“Kami atas nama pimpinan berterima kasih karena ada kolaborasi yang sinergitas antara BI, Angkatan Laut dan juga Pemprov,” ujarnya.

Pollymaart juga menekankan pentingnya membangun rasa bangga terhadap rupiah dan memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak meremehkan mata uang sendiri.

“Yang kedua, coba dikasih edukasi supaya memperlakukan rupiah itu dengan hormat. Kadang-kadang rupiah digulung-gulung aja, taruh sini sudah. Tapi saya tidak pernah lihat ringgit digituin atau dolar. Kenapa rupiah digituin?” ungkapnya.

Ekspedisi Rupiah Berdaulat ini diharap bukan sekadar aktivitas logistik, tetapi simbol kehadiran negara untuk memperkuat kedaulatan ekonomi dan memastikan layanan kas hingga ke batas terluar Nusantara.

Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

16.4k Pengikut
Mengikuti

BERITA POPULER