TANJUNG SELOR – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kalimantan Utara (Kaltara) terus melakukan pemantauan kualitas air di wilayah Kaltara guna memastikan tingkat kebersihan serta kelayakan air untuk dikonsumsi masyarakat.
Pemantauan tersebut dilakukan menggunakan alat Automatic Water Quality Monitoring System (Anlimo).
Kepala DLH Kaltara, Hairul Anwar, melalui Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Muda DLH Kaltara, Petrus Maden Sima, menjelaskan bahwa Anlimo berfungsi untuk memantau kondisi kualitas air secara berkala dan berkelanjutan.
Saat ini, perangkat tersebut telah terpasang di Pelabuhan Kayan II, Tanjung Selor, sebagai salah satu titik strategis pemantauan.
Menurut Petrus, melalui Anlimo, DLH Kaltara dapat memantau berbagai parameter kualitas air secara real time, sehingga memudahkan dalam mendeteksi potensi pencemaran sejak dini.
Data yang dihasilkan dari alat tersebut menjadi dasar dalam melakukan evaluasi serta pengambilan langkah lanjutan apabila ditemukan indikasi penurunan kualitas air.
“Pemantauan kita lakukan secara rutin, bisa per hari, per minggu, hingga per bulan dan tahunan. Semua data itu terus kita pantau,” jelas Petrus.
Namun demikian, ketersediaan alat pendeteksi kadar baku mutu air berbasis Anlimo di Kalimantan Utara masih tergolong minim. Hingga saat ini, DLH Kaltara baru memiliki satu unit Anlimo yang digunakan untuk memantau kualitas air.
“Jumlahnya memang masih satu dan itu kita pasang di Pelabuhan Kayan II Tanjung Selor,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa hingga kini seluruh kabupaten dan kota di Kaltara belum memiliki alat pemantauan kualitas air berbasis Anlimo. Oleh karena itu, DLH Kaltara tengah mengusulkan penambahan unit Anlimo kepada pemerintah pusat agar pemantauan kualitas air dapat dilakukan secara lebih merata di berbagai wilayah.
“Di kabupaten dan kota belum ada, dan saat ini sedang kita usulkan ke pemerintah pusat,” katanya.
Petrus menambahkan, Anlimo berfungsi untuk mengukur kadar baku mutu serta kualitas air secara otomatis dan berkelanjutan. Data yang dihasilkan sangat penting sebagai bahan evaluasi dalam pengendalian pencemaran air.
Sementara itu, untuk pemantauan di kawasan perusahaan, alat yang digunakan umumnya berupa sparing, dengan sistem pemantauan berkala. Hasil pengukuran kadar baku mutu air tersebut nantinya akan terintegrasi dan dievaluasi melalui sistem pemantauan Onlimo.
“Kadar baku mutunya akan diukur lewat Onlimo,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa Anlimo yang saat ini digunakan merupakan bantuan dari kementerian melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sementara DLH Kaltara berperan dalam penyediaan lahan sebagai lokasi pemasangan alat tersebut.
“Kita hanya menyediakan lahannya,” tutup Petrus. (tin/and)
Reporter: Martinus
Editor: Andhika


