TARAKAN – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Utara (Kaltara) membeberkan alasan mengapa bandar narkoba masih sulit ditangkap. Penjelasan tersebut disampaikan saat menjawab pertanyaan awak media dalam rilis akhir tahun di Kantor BNNP Kaltara, Selasa (30/12/2025).
Plt Kepala BNNP Kaltara, Agus Surya Dewi, mengatakan pola jaringan narkoba yang terputus menjadi salah satu faktor utama sulitnya menembus aktor utama di balik peredaran barang haram tersebut. Para bandar tidak terlibat langsung dalam transaksi dan sengaja menghilangkan jejak agar tidak bisa dilacak.
Ia menyebut barang narkoba biasanya diletakkan di titik tertentu tanpa pertemuan langsung antara bandar dan kurir. “Yang tertangkap kebanyakan kurir atau pengedar kecil. Mereka tidak tahu siapa bandarnya, atau tahu tapi tidak berani menyampaikan,” ujarnya.
Selain minimnya bukti keterlibatan langsung, faktor ancaman terhadap keselamatan juga membuat kurir enggan membuka jaringan. Ketakutan tidak hanya dirasakan oleh pelaku, tetapi juga menyangkut keamanan keluarga mereka.
“Kalau mereka buka bicara, risikonya besar. Itu yang membuat pengungkapan jaringan sering terhenti di bawah,” jelasnya.
BNNP Kaltara memastikan tetap membidik bandar besar melalui penelusuran aset dan kolaborasi lintas instansi. Namun tanpa dukungan bukti dan keterangan yang kuat, proses hukum tidak bisa dipaksakan.
“Ini soal pembuktian. Kami tidak bisa melangkah lebih jauh kalau bukti tidak cukup,” tegas Agus.
Ia menambahkan, modus peredaran narkoba di Kaltara juga terus berkembang, dari jalur sungai kini mulai bergeser ke jalur darat perbatasan, sehingga pengawasan akan diperkuat melalui kerja sama antarinstansi. (apc/and)
Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika


