TARAKAN – Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Kalimantan Utara (Kaltara) mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap gangguan mental semata-mata disebabkan oleh kurangnya keimanan seseorang. Pandangan tersebut dinilai keliru dan berpotensi membuat penderita enggan mencari bantuan profesional.
Ketua HIMPSI Kaltara, Sulistyowati, menjelaskan bahwa gangguan mental merupakan kondisi yang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari biologis, psikologis, sosial hingga lingkungan. Karena itu, masalah kesehatan mental tidak dapat disederhanakan hanya sebagai persoalan spiritual.
“Spiritualitas memang bisa menjadi coping mechanism atau mekanisme koping yang membantu seseorang memperoleh harapan dan makna hidup. Namun mengaitkan gangguan mental hanya karena kurang iman adalah pandangan yang keliru dan berbahaya,” ujarnya, Minggu (31/5/2026).
Menurutnya, seseorang yang taat beribadah sekalipun tetap berpotensi mengalami gangguan mental, termasuk depresi klinis. Kondisi tersebut dapat dipicu oleh trauma, tekanan hidup berkepanjangan maupun gangguan fungsi otak.
“Orang religius pun bisa mengalami depresi klinis akibat trauma atau gangguan fungsi otak. Karena itu penting untuk memahami kesehatan mental secara lebih komprehensif,” tegasnya.
Sulistyowati menjelaskan, tekanan mental yang dialami setiap individu juga berbeda sesuai tahapan usia. Pada remaja, tekanan umumnya berkaitan dengan perkembangan emosi, pencarian jati diri, penerimaan sosial hingga kecemasan terhadap masa depan.
Hal tersebut terjadi karena bagian otak yang mengatur emosi berkembang lebih cepat dibandingkan bagian yang berfungsi mengendalikan logika dan pengambilan keputusan.
Sementara pada orang dewasa, tekanan mental lebih banyak dipengaruhi tanggung jawab kehidupan seperti persoalan ekonomi, pekerjaan, konflik rumah tangga dan kebutuhan keluarga.
Selain faktor biologis, tekanan mental juga dapat dipicu oleh lingkungan sosial. Fenomena perundungan, baik secara langsung maupun melalui media digital, penolakan dari teman sebaya hingga isolasi sosial menjadi faktor yang kerap memperburuk kondisi psikologis seseorang.
Di sisi lain, perkembangan teknologi dan media sosial juga membawa tantangan tersendiri. Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) membuat banyak remaja merasa tertinggal dan terus membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain yang terlihat ideal di media sosial.
Karena itu, Sulistyowati menekankan pentingnya dukungan dari keluarga, sekolah dan lingkungan sekitar sebagai sistem pendukung bagi individu yang sedang menghadapi tekanan mental.
“Lingkungan yang aman secara emosional bisa menjadi penahan saat seseorang mengalami krisis. Mereka membutuhkan ruang untuk menyampaikan perasaan tanpa takut dihakimi,” pungkasnya. (apc/and)
Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika


