TANJUNG SELOR – Produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Kabupaten Bulungan berhasil menembus pasar nasional, dan akan dipasarkan di Mall Sarinah, Jakarta.
Bupati Bulungan, Syarwani, mengungkapkan capaian ini merupakan hasil dari proses panjang mulai dari seleksi hingga kurasi produk. Dari puluhan produk yang diusulkan, hanya 30 jenis produk yang memenuhi standar kualitas yang akhirnya lolos untuk dipasarkan di tingkat nasional.
“InsyaAllah, jika tidak ada hambatan, pada 30 April 2026 kita akan secara resmi melaunching produk-produk UMKM Bulungan di Mall Sarinah Jakarta,” ujar Syarwani, Kamis (16/4/2026).
Syarwani menyebutkan, dirinya telah meninjau langsung sejumlah produk unggulan yang akan dipasarkan. Salah satunya adalah produk cokelat hasil olahan petani dari Desa Antutan dan Pejalin. Selain itu, terdapat pula berbagai produk cemilan yang diproduksi oleh pelaku UMKM, khususnya ibu-ibu di Desa Mangkupadi. “Produk-produk tersebut sudah dipajang di Sarinah dan bahkan sudah mulai dikonsumsi,” ungkapnya.
Melalui momentum ini, pemerintah daerah berharap produk UMKM Bulungan semakin dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Tidak hanya berhenti di Sarinah, promosi juga akan diperluas ke berbagai titik strategis seperti bandara dan pelabuhan di wilayah Kalimantan Utara seperti di Bandara Tanjung Harapan, Tanjung Sslor dan Kota Tarakan. “Minimal produk UMKM Bulungan bisa dipajang sebagai oleh-oleh di bandara maupun pelabuhan, baik di Tanjung Selor maupun Tarakan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Syarwani menjelaskan bahwa dari sekitar 70 produk yang diajukan oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop) Bulungan, sekitar 30 produk dinyatakan lolos kurasi.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga ketersediaan stok agar produk yang sudah masuk pasar nasional tidak terputus. “Kami sudah instruksikan dinas terkait untuk memastikan ketersediaan produk tetap terjaga. Ketika dibutuhkan, harus selalu siap,” tegasnya.
Selain itu, keberlanjutan produksi, terutama untuk komoditas cokelat, menjadi perhatian serius. Hal ini melibatkan peran Dinas Pertanian, Disperindagkop, serta kelompok tani dan pelaku usaha di lapangan. “Produksi cokelat memang tidak setiap hari karena masa panennya sekitar dua bulan. Namun, dengan pengaturan siklus produksi dan penyimpanan biji cokelat yang baik, kebutuhan pasar tetap bisa dipenuhi,” jelasnya.
Rencananya, peluncuran produk UMKM Bulungan di Sarinah akan diresmikan langsung oleh Menteri UMKM, sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan ekonomi daerah berbasis UMKM. (*)
Penulis: Martinus
Editor: Yusva Alam


