TARAKAN – Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 11 Tarakan resmi memasuki tahap pembelajaran reguler, setelah menuntaskan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) selama lima hari dan program prastudi selama 13 hari.
Kepala SNT 11 Tarakan, Friny Napasti, mengatakan saat ini sekolah memiliki 80 siswa yang terbagi dalam empat rombongan belajar, masing-masing dua rombel kelas VII SMP dan dua rombel kelas X SMA dengan 20 siswa di setiap kelas.
“Pembelajaran saat ini sudah berjalan melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler,” kata Friny, Kamis (10/9/2026).
Menurutnya, proses belajar didukung 14 Tenaga Pendamping Pembelajaran (TPP), satu tenaga administrasi, dan seorang kepala sekolah. Selain itu, sekolah juga sedang menyeleksi dua wakil kepala sekolah dan satu kepala subbagian umum.
Meski baru memasuki pekan keempat pembelajaran, SNT 11 Tarakan telah memiliki profil kesiapan belajar seluruh siswa melalui program prastudi. Profil tersebut memuat data bakat, minat, kemampuan literasi, dan numerasi awal yang akan menjadi dasar penyusunan pembelajaran bagi setiap siswa.
Friny mengatakan, sekolah mulai menerapkan pembelajaran khas SNT yang memadukan kurikulum nasional dengan pendekatan pembelajaran mendalam melalui STEAMS, penggunaan teknologi, coding, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta pembelajaran dwibahasa Indonesia-Inggris.
STEAMS sendiri merupakan pendekatan pendidikan yang mengintegrasikan Sains (Science), Teknologi (Technology), Teknik (Engineering), Seni (Arts), dan Matematika (Mathematics) dalam proses pembelajaran yang saling terhubung untuk membangun kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan pemecahan masalah.
Selain akademik, sekolah juga mengembangkan pendidikan karakter melalui kegiatan community service, serta pelibatan orang tua dalam pembiasaan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
“Kami menargetkan lahirnya pembelajar yang unggul, berkarakter, berwawasan global, namun tetap berakar pada budaya lokal Tarakan,” ujarnya.
Keberadaan SNT 11 Tarakan merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Tim Transisi SNT dari Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Kalimantan Utara, hingga Pemerintah Kota Tarakan yang sejak awal memberikan dukungan terhadap pengembangan sekolah tersebut.
Friny menyampaikan apresiasi atas pendampingan yang terus diberikan selama proses persiapan, hingga pelaksanaan pembelajaran reguler. Menurutnya, sinergi lintas lembaga menjadi faktor penting sehingga SNT dapat berdiri dan mulai beroperasi di Tarakan.
Ia juga menilai komitmen Pemerintah Kota Tarakan, khususnya dukungan Wali Kota Tarakan, Khairul dalam mengambil keputusan strategis, menjadi bagian penting yang mengantarkan Tarakan masuk dalam sejarah pengembangan pendidikan nasional sebagai salah satu dari 17 daerah perintis (former) Sekolah Nasional Terintegrasi di Indonesia.
Pewarta: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


