
BERAU – Wakil Bupati Berau, Gamalis, menyoroti masalah over kapasitas yang dialami satu-satunya Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kabupaten Berau.
Sekolah yang berlokasi di Jalan Durian II, Tanjung Redeb, ini terpaksa menutup penerimaan siswa baru untuk tahun ajaran 2025/2026 karena tidak mampu lagi menampung murid.
Gamalis mengakui dirinya belum mendapatkan pembaruan data dari Dinas Pendidikan, namun ia menegaskan pemerintah daerah harus segera turun tangan.
“Paling tidak kami sudah mengetahui permasalahan tersebut, sehingga tentu kita selaku pemda harus segera meninjau dan mengambil keputusan,” ujarnya.
“Jika memang ini kebutuhan mendesak, kami akan berkoordinasi dengan pihak Pemprov Kaltim. Termasuk dengan kebutuhan guru sekolah inklusi yang saat ini sangat kurang di Berau,” tambahnya.
Ia memastikan, jika masalah ini bersifat mendesak, langkah penyelesaiannya akan dilakukan secepat mungkin.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Berau, Mardiatul Idalisah, menjelaskan bahwa penuh sesaknya SLB menjadi sinyal darurat layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) di Berau.
Sebagai solusi jangka pendek, pihaknya memperkuat layanan inklusif di sekolah reguler. Namun, kebijakan ini bergantung pada hasil asesmen psikologis setiap anak.
“Kita hanya bisa arahkan ke sekolah reguler kalau hasil psikologinya di bawah 80 persen. Di atas itu idealnya masuk SLB. Tapi sekarang, SLB kita sudah tidak bisa lagi menampung,” ungkapnya.
Karena SLB dikelola oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, permasalahan ini akan segera dibahas bersama pihak provinsi untuk mencari langkah penanganan.
Saat ini, seluruh sekolah negeri di Berau diarahkan untuk bisa menerima siswa ABK. Dari yang awalnya hanya 10 sekolah berstatus inklusif, kini kebijakan tersebut diperluas ke semua sekolah negeri.
“Kalau dulu hanya 10 sekolah yang kita tetapkan sebagai sekolah inklusi, sekarang seluruh sekolah negeri diarahkan melayani ABK,” jelasnya.
Meski begitu, tantangan besar tetap ada, terutama pada kesiapan tenaga pengajar. Belum semua guru reguler memiliki kompetensi menangani siswa ABK.
Kebutuhan 207 Guru Inklusi
Dinas Pendidikan merencanakan pelatihan guru inklusif mulai tahun ini, mengingat jumlah ABK yang terus meningkat, termasuk di tingkat taman kanak-kanak.
“Insyaallah tahun ini ada pelatihan. Anak ABK kita makin banyak, mulai dari TK. Dengan keterbatasan guru, kami harap nanti bisa masuk ke dalam standar perencanaan,” ujarnya.
Berdasarkan pemetaan kebutuhan, sedikitnya 207 guru inklusi dibutuhkan untuk sekolah negeri. Jumlah ini belum termasuk 446 sekolah swasta yang juga berpotensi menerima ABK.
Guru-guru tersebut nantinya akan mendapatkan pelatihan khusus agar mampu melaksanakan pendidikan inklusif secara efektif.
Mardiatul menegaskan, dengan keterbatasan daya tampung SLB dan pertumbuhan jumlah ABK yang signifikan, penguatan sekolah inklusif bukan lagi sekadar pilihan, tetapi sebuah keharusan.
“Tanpa percepatan pelatihan guru dan pemenuhan standar pelayanan minimal, ribuan anak berkebutuhan khusus di Berau terancam kehilangan akses terhadap pendidikan yang layak dan setara,” pungkasnya. (adv/ril/and)


