TARAKAN – Yayasan Al Marhamah meluncurkan program Sekolah Lansia dengan jenjang S1, S2, hingga S3, sebagai upaya menjawab persoalan sosial akibat meningkatnya jumlah lanjut usia (lansia) yang belum diimbangi dengan bertambahnya lembaga maupun sumber daya manusia yang menangani mereka.
Program tersebut resmi diluncurkan di Ruang Pertemuan Asrama Haji Transit Kalimantan Utara, Kompleks Islamic Center Tarakan, Kamis (2/7/2026), dan diresmikan oleh Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Tarakan, Arbain.
HRD Yayasan Al Marhamah, Abdunnur Razaki, mengatakan istilah S1, S2, dan S3 bukan merupakan gelar akademik, melainkan standar kurikulum pemberdayaan lansia yang disusun secara bertahap. “Ada permasalahan sosial di mana jumlah lansia terus bertambah, tetapi jumlah orang maupun lembaga yang mengelola mereka tidak ikut bertambah. Dari situ Al Marhamah mencoba mengambil peluang untuk menyelesaikan persoalan tersebut melalui program Sekolah Lansia,” ujarnya.
Dia menjelaskan, pada jenjang S1 peserta mengikuti 10 kali pertemuan yang berfokus pada pembentukan kemandirian serta pemahaman dasar mengenai kesehatan lansia.
Selanjutnya di jenjang S2, peserta menjalani delapan kali pertemuan yang lebih banyak diisi aktivitas fisik, kegiatan luar ruangan, hingga rekreasi untuk menjaga kebugaran sekaligus meningkatkan kebahagiaan lansia.
Sementara pada jenjang S3, peserta didorong menjadi lansia yang produktif dengan menghasilkan karya, baik berupa produk maupun bentuk karya lainnya. “Seluruh pertemuan tahun ini dirapel. Nanti peserta S1, S2, dan S3 akan diwisuda bersama pada Januari tahun depan,” katanya.
Abdunnur mengungkapkan, pada tahun lalu pihaknya telah mewisuda 30 peserta jenjang S1 yang kini melanjutkan ke S2. Sementara angkatan baru S1 tahun ini telah diikuti sekitar 20 lansia.
Untuk sementara, program Sekolah Lansia baru menjangkau wilayah Lingkas Ujung. Namun, Yayasan Al Marhamah menargetkan program tersebut dapat diperluas ke seluruh wilayah Kota Tarakan hingga Kalimantan Utara.
Meski pendaftaran masih dibuka secara bertahap, seluruh calon peserta wajib mengikuti proses skrining kesehatan yang meliputi pemeriksaan usia, tinggi badan, berat badan, hingga kondisi kesehatan secara menyeluruh. “Kami mengatur pendaftaran secara bertahap agar proses belajar berjalan efektif dan peserta tidak banyak yang absen,” jelasnya.
Program ini juga memprioritaskan peserta berusia 60 tahun ke atas, meski tetap membuka kesempatan bagi kelompok usia pra-lansia melalui kategori Jelita (Jelang 50 Tahun) dan Lolita (Lolos 50 Tahun).
Menariknya, seluruh kegiatan Sekolah Lansia tidak dipungut biaya alias gratis. Usai peluncuran, peserta langsung mengikuti kelas perdana yang menghadirkan pemateri dari Heksan Nursing Center. Dalam sesi tersebut, para lansia mendapat pelatihan gerakan akupresur dan pijat sederhana, yang dapat dipraktikkan secara mandiri untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh sehari-hari.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


