TANJUNG SELOR – Anggota DPR RI perwakilan Kalimantan Utara (Kaltara), H. Rahmawati, terus memperjuangkan keterpenuhan kuota lokal di Sekolah Garuda Baru, yang dicanangkan pemerintah pusat melalui Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti).
Diketahui, kuota lokal yang disediakan bagi warga Kaltara mencapai 30 persen dari total peserta didik yang diterima. Sementara sisanya, yakni 70 persen, diisi oleh peserta didik dari luar daerah.
Namun demikian, jumlah kuota lokal tersebut berpotensi terus ditambah, menyesuaikan dengan minat masyarakat Kaltara dalam penerimaan peserta didik baru tahun ajaran 2026–2027.
Salah satu hal yang terus diperjuangkan legislator asal Kaltara, H. Rahmawati Zainal, yakni mengenai standarisasi nilai bagi peserta didik dari daerah.
Menurutnya, di wilayah Jawa dan Sumatera rata-rata nilai minimal untuk dapat diterima di SMA Garuda mencapai 90. Namun, ia mengusulkan agar standar nilai bagi siswa dari Kaltara dapat disesuaikan menjadi rata-rata 85 dan itu disetujui.
“Kalau di Jawa dan Sumatera itu rata-rata nilai yang boleh masuk SMA Garuda sekitar 90. Tapi kita berjuang supaya untuk Kaltara batas rata-ratanya 85. Karena bagaimanapun juga kualitas sumber daya manusia di Jawa dan Kaltara berbeda, terutama dari sisi ketersediaan infrastruktur dan fasilitas pendidikan,” ujarnya.
Rahmawati meminta dukungan semua pihak, termasuk media, untuk membantu menyebarkan informasi mengenai penerimaan siswa di Sekolah Garuda tersebut.
“Saya minta tolong kepada rekan-rekan sekalian agar membantu menyebarkan informasi penerimaan Sekolah Garuda ini,” katanya.
Ia menyadari keberadaan sekolah Garuda Baru di Kaltara masih belum diketahui secara luas oleh masyarakat. Oleh karena itu, melalui media sosial maupun media arus utama, Rahmawati berharap informasi mengenai Sekolah Garuda dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
“Masih banyak yang belum tahu. Kemarin saya juga sudah menyebarkan link pendaftarannya supaya anak-anak kita bisa mendaftar ke SMA Garuda,” ungkapnya.
Terkait biaya pendidikan, Rahmawati memperkirakan sekolah tersebut akan bersifat gratis, meski mekanisme pastinya masih menunggu penjelasan lebih lanjut dari pemerintah pusat.
“Kalau gratis sepertinya iya, tapi saya juga belum tahu persis mekanismenya. Yang jelas sekolah ini sangat luar biasa. Saat ini hanya sekitar 8 sampai 16 Sekolah Garuda yang baru dibangun di Indonesia, termasuk di Kaltara dan Kaltim,” imbuhnya.
Sekolah Garuda merupakan sekolah unggulan yang diperuntukkan bagi siswa-siswi berprestasi. Nantinya, para siswa akan mendapatkan pembinaan khusus dari pemerintah pusat, untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan mereka.
Program sekolah garuda baru ini diharapkan dapat membuka peluang bagi para lulusan untuk melanjutkan pendidikan atau berkarier di berbagai bidang strategis, termasuk akademi militer, kepolisian, maupun memperoleh beasiswa pendidikan dari pemerintah pusat. (*)
Penulis: Martinus
Editor: Yusva Alam


