TANJUNG SELOR – Anggota DPR RI perwakilan Kalimantan Utara (Kaltara), H. Rahmawati, menghadiri Bimbingan Teknis (Bimtek) Wirausaha Baru membatik tingkat dasar dengan pewarna sintetis, yang digelar di Rumah Kemasan, Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan, Senin (27/4/2026).
Kegiatan ini merupakan inisiatif Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi (Disperindagkop) Kalimantan Utara, yang berkolaborasi dengan sejumlah satuan pendidikan di wilayah Kaltara. Dalam sambutannya, H. Rahmawati menekankan pentingnya menjaga identitas dan ciri khas lokal dalam proses pembuatan batik.
Menurutnya, keunikan tersebut menjadi daya tarik tersendiri, baik di pasar lokal maupun internasional. “Pesan saya, jangan hilangkan identitas budaya kita. Di setiap karya batik harus ada ciri khas daerah. Itu yang harus tetap dipertahankan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setiap produk yang digunakan masyarakat pasti akan memunculkan pertanyaan tentang asal-usulnya. Karena itu, keberadaan ciri khas daerah menjadi sangat penting sebagai penanda identitas. “Seperti halnya batik Sebatik, motif Dayak, dan ciri khas dari daerah lainnya. Itu yang membuat kita berbeda,” tambahnya.
Rahmawati juga mengapresiasi antusiasme para peserta, yang dinilainya menunjukkan semangat tinggi dalam mengasah keterampilan serta memperdalam pengetahuan di bidang seni kerajinan membatik.
Menurutnya, pelatihan ini tidak sekadar menjadi rutinitas, tetapi memiliki tujuan besar untuk mendorong perkembangan industri kerajinan batik di Kalimantan Utara. “Pelatihan ini bukan sekadar rutinitas yang mengulang kegiatan sebelumnya. Tujuan utama kita adalah agar industri batik di Kaltara semakin berkembang,” jelasnya.
Ia juga membagikan pengalamannya saat melakukan kunjungan ke sejumlah daerah di Pulau Jawa, seperti Yogyakarta dan Semarang, yang telah lebih dulu mengembangkan sentra batik dengan berbagai teknik, termasuk pewarnaan alami dan proses produksi mandiri.
“Saya sering berkunjung ke Yogyakarta, ada kampung batik, begitu juga di Semarang. Mereka sudah berkembang, mulai dari pewarnaan alami hingga menenun sendiri. Saya harap ke depan kita bisa berkomunikasi dengan Dekranasda Jawa Tengah untuk saling bertukar ilmu dan karya,” ungkapnya.
Rahmawati berharap, ke depan para pengrajin dan pelaku batik di Kaltara dapat menjadi sumber daya unggul yang mampu menjadi narasumber dalam pelatihan-pelatihan selanjutnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa meskipun kegiatan ini bertajuk pelatihan tingkat dasar, namun diharapkan mampu menghidupkan komunitas pengembangan batik secara lebih luas, tidak hanya di kalangan pelaku UMKM, tetapi juga di lingkungan pendidikan.
Ia mengungkapkan, sejumlah sekolah di Kaltara telah aktif mengembangkan keterampilan membatik, di antaranya SMK Negeri 1 Tanjung Selor, SLB Negeri Tanjung Selor, serta beberapa SMK dan SLB di kabupaten/kota lainnya.
“Ini menjadi potensi besar yang harus kita dorong bersama,” ujarnya.
Rahmawati juga menyinggung capaian batik Kaltara yang telah mendapat pengakuan di tingkat nasional. Ia menyebut, dalam kegiatan Bimtek Pariwisata di wilayah perbatasan Sebatik, disampaikan bahwa salah satu batik dari Kabupaten Nunukan berhasil meraih penghargaan dari Kementerian Pariwisata.
“Kalau kita mendapat penghargaan, itu harus kita tampilkan. Bingkai hasil karya tersebut dan letakkan di kantor-kantor atau bandara. Dengan begitu, masyarakat luas akan tahu bahwa batik kita pernah mendapatkan pengakuan dari pemerintah pusat,” pungkasnya. (*)
Penulis: Martinus
Editor: Yusva Alam


