TARAKAN – Rencana pemindahan pusat pemerintahan Kota Tarakan ke wilayah Tarakan Utara mulai memasuki tahap persiapan. Proyek ini ditargetkan berjalan dalam 1–2 tahun ke depan, dengan operasional penuh direncanakan pada awal 2028.
Camat Tarakan Utara, Sisca Maya Crenata, mengakui rencana tersebut memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Meski demikian, ia menilai dukungan terhadap pembangunan tetap lebih dominan. “Memang ada pro dan kontra, tapi secara umum masyarakat banyak yang mendukung. Hanya sebagian kecil yang merasa terganggu dengan kondisi yang ada saat ini,” ujarnya, Senin (6/4/2026).
Menurut Sisca, dari empat kecamatan di Tarakan, wilayah utara diproyeksikan sebagai pusat baru, tidak hanya untuk pemerintahan, tetapi juga sebagai kawasan industri.
Seiring dimulainya aktivitas pembangunan, sejumlah keluhan warga mulai muncul, terutama terkait debu dan lalu lintas kendaraan proyek di sekitar kawasan pembangunan sekolah rakyat dan industri. “Kami sudah sampaikan ke pihak pelaksana agar truk ditutup terpal dan jalan disiram, supaya debu bisa diminimalisir,” jelasnya.
Selain itu, pelebaran Jalan Aji Iskandar juga akan dilakukan sebagai bagian dari pengembangan kawasan. Pemerintah, kata dia, telah melakukan sosialisasi kepada warga yang beraktivitas di sepanjang bahu jalan. “Masyarakat sudah kami beri pemahaman bahwa itu merupakan aset jalan nasional, jadi tidak ada ganti rugi. Alhamdulillah mereka siap bekerja sama,” ungkapnya.
Terkait lahan, ia menyebut sebagian besar sudah dibebaskan, meskipun masih ada beberapa persoalan yang akan diselesaikan secara bertahap.
Untuk pembangunan pusat pemerintahan, saat ini masih dalam tahap pematokan lahan seluas sekitar 40 hektare. Nantinya, kawasan tersebut akan mencakup kantor wali kota, gedung serbaguna, serta sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) seperti Bappeda, BKPSDM, Inspektorat, dan instansi pengelola keuangan.
Sisca menilai, pembangunan ini menjadi langkah pemerataan wilayah, mengingat selama ini Tarakan Utara kerap dianggap kurang mendapat perhatian.“Dulu orang Juata kalau ke GTM bilangnya mau ke Tarakan, padahal ini satu kota. Sekarang kita dorong bahwa wilayah utara juga berkembang,” katanya.
Di sisi lain, ia juga memanfaatkan media sosial sebagai sarana komunikasi dengan masyarakat. Melalui akun pribadinya, Sisca mengaku aktif menerima aduan hingga kritik warga. “Tujuannya supaya kita tahu langsung kondisi di lapangan dan bisa cepat menindaklanjuti,” tutupnya.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


