spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

PSDKP Tarakan Tangani 11 Kasus Pelanggaran Kelautan dan Perikanan

TARAKAN – Sepanjang Januari hingga September 2023, Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Tarakan telah menangani delapan sanksi adminsitrasi dan tiga kasus tindak pidana perikanan.

Kepala PSSKP Tarakan, Johanis J. Medea mengatakan, untuk tiga tindak pidana merupakan kasus pengeboman yang dilakukan oleh nelayan Malaysia. Saat ini, kasusnya akan dilimpahkan ke Kantor Kejaksaan untuk masuk tahap satu.

“Ini rekan-rekan di Sebatik berhasil menangkap. Rencananya Kamis ini dilimpahkan ke Kejaksaan untuk masuk ke tahap satu,”ungkapnya, Rabu (13/9/2023).

Sedangkan untuk kasus sanksi administrasi, pihaknya telah menangani delapan kasus. Mulai dari pelanggaran daerah penangkapan, penangkapan jenis ikan yang dilindungi, pelanggaran alat tangkap dan lain sebagainya.

“Ada total delapan kasus pengenaaan sanksi adminsitrasi dan 3 kasus tindak pidana perikanan,” katanya.

Johanis menyebut, wilayah kerja Stasiun PSDKP Tarakan cukup luas meliputi Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Utara. Stasiun PSDKP Tarakan, kata dia, memiliki beberapa unit armada untuk melakukan pengawasan di antaranya, Kapal Pengawas Perikanan (KP) Hiu 07 28 meter, kemudian untuk wilayah Sebatik memiliki speedboat Unit Reaksi Cepat (URC) atau RIB.

Baca Juga:   Terlanjur Beli Produk Pendukung Israel, Ketua MUI Kaltara: Jangan Panik, Habiskan Saja!

Lalu, di Tarakan memiliki RIB (Rigid Inflatable Boat), sementara untuk Banjarmasin dan Balikpapan memiliki speedboat pengawas yang mendukung operasi pengawasan. “Tahun ini juga ada dukungan dari pusat, satu unit Albakor atau kapal pengawas tipe 16 meter untuk menopang pengawasan di Kaltara,” lanjutnya.

Saat disinggung apakah jumlah armada tersebut sudah ideal untuk mengawasi perairan di Kaltara, dia menjawab akan sangat sulit mengawasi dengan wilayah yang luas. Kendati demikian, Johanis menyebut PSDKP didukung oleh operasi pusat dengan menggunakan kapal pengawas. Menurutnya, perlu kerjasama seluruh pihak untuk menindak seluruh pelanggaran di perairan.

“Itulah pentingnya kerjasama stakeholders, kemarin yang penangkapan bom oleh negara tetangga itu bersama-sama Angkatan Laut (AL). Ketika kami turun di wilayah Berau itu juga bersama Polair. Jadi koordinasi sinergitas kami sangat luar biasa,” pungkasnya. (apc/and)

Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika

16.4k Pengikut
Mengikuti

BERITA POPULER