TARAKAN – Potensi gempa menjadi salah satu perhatian dalam upaya mitigasi bencana di Kota Tarakan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan menilai, kondisi konstruksi bangunan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan untuk mengurangi risiko saat terjadi guncangan.
Kepala BPBD Tarakan, Yonsep, mengatakan karakter bangunan di Tarakan cukup beragam. Sebagian bangunan masih menggunakan material kayu, sementara konstruksi baru banyak menggunakan beton bertulang maupun baja ringan.
“Rata-rata bangunan di Kota Tarakan masih menggunakan kayu. Kayu itu cukup elastis dalam hal ketahanannya,” kata Yonsep, Selasa (22/9/2026).
Menurutnya, penggunaan beton bertulang juga menjadi salah satu konstruksi yang banyak diterapkan dalam pembangunan saat ini. Struktur tersebut dilengkapi tulangan, sehingga memiliki kekuatan yang lebih baik dibandingkan konstruksi tanpa penguatan struktur.
Namun, perhatian perlu diberikan terhadap bangunan-bangunan lama. Yonsep menyebut sebagian gedung tua kemungkinan dibangun pada masa, ketika standar konstruksi terhadap potensi gempa belum menjadi pertimbangan utama.
“Gedung-gedung tua mungkin pada saat dibangun belum mempertimbangkan standar terhadap potensi gempa. Tetapi gedung-gedung baru tentu sudah berbeda,” ujarnya.
Yonsep menjelaskan, karakter konstruksi bangunan di Tarakan juga berbeda dengan sejumlah daerah lain. Di beberapa wilayah, bangunan menggunakan susunan bata yang kemudian diplester. Sementara di Tarakan, penggunaan kayu cukup umum sebagai material bangunan.
Seiring perkembangan pembangunan, masyarakat kini semakin banyak menggunakan material seperti baja ringan dan beton bertulang. Konstruksi dengan tulangan, kata dia, menjadi salah satu bagian dalam memperkuat struktur bangunan.
“Kalau beton bertulang, tentu ada tulangannya. Jadi secara konstruksi pasti ada langkah-langkah untuk memperkuat bangunan,” jelasnya.
Meski demikian, Yonsep menegaskan mitigasi gempa tidak hanya bergantung pada kekuatan bangunan. Kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana juga menjadi faktor penting untuk menekan risiko korban.
BPBD Tarakan terus mengingatkan masyarakat, agar mengetahui lokasi titik kumpul dan memahami jalur evakuasi, terutama ketika terjadi gempa yang berpotensi diikuti tsunami.
Masyarakat juga diminta tidak panik ketika bencana terjadi. Menurut Yonsep, kepanikan justru dapat menimbulkan risiko lain saat warga berupaya menyelamatkan diri.
“Bencana memang tidak bisa kita cegah, tetapi bagaimana kita memitigasi agar jumlah korban semakin kecil. Itu yang paling utama,” pungkasnya.
Pewarta: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


