TARAKAN – Penggunaan sistem pembayaran digital berbasis Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) terus menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, volume transaksi QRIS di Bumi Benuanta melonjak hingga 408 persen dibanding tahun sebelumnya.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kaltara, Hasiando Ginsar Manik, mengatakan peningkatan tersebut menjadi indikator semakin luasnya literasi dan penggunaan transaksi non-tunai di tengah masyarakat.
Hingga akhir 2025, jumlah pengguna QRIS di Kaltara tercatat mencapai sekitar 131 ribu pengguna atau tumbuh 8,1 persen dibanding 2024. “Di posisi akhir 2025 sudah ada 131 ribu pengguna QRIS di Kalimantan Utara. Kalau dibandingkan dengan jumlah masyarakat usia produktif yang mencapai kurang lebih 392 ribu jiwa, tingkat penetrasinya masih sekitar 25 persen,” ujar Hasiando, Senin (11/5/2026).
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan peluang pengembangan ekosistem pembayaran digital di Kaltara masih sangat besar.
Bank Indonesia pun terus mendorong perluasan penggunaan QRIS di berbagai sektor transaksi masyarakat. “Bisa digunakan untuk belanja, pembelian tiket speedboat, dan kebutuhan lainnya. Ini menjadi tantangan agar masyarakat semakin terbiasa menggunakan pembayaran non-tunai,” katanya.
Meski demikian, Hasiando menegaskan dorongan penggunaan transaksi digital bukan berarti menghilangkan uang tunai. “Tunai tetap ada. Mendorong non-tunai bukan berarti melarang tunai, tapi menyediakan alternatif yang lebih praktis,” tegasnya.
Tak hanya dari sisi pengguna, jumlah merchant QRIS di Kaltara juga mengalami peningkatan signifikan. Sepanjang 2025, tercatat ada sekitar 112 ribu merchant yang telah menggunakan layanan QRIS atau tumbuh 18 persen secara tahunan. Tarakan menjadi wilayah dengan jumlah merchant dan tingkat kepadatan penggunaan QRIS tertinggi di Kaltara.
Sementara itu, dari sisi nominal transaksi, nilai transaksi QRIS di Kaltara sepanjang 2025 mencapai Rp2,4 triliun atau tumbuh 266 persen dibanding tahun sebelumnya. Frekuensi transaksi juga melonjak tajam hingga menyentuh 21,5 juta transaksi.
Bank Indonesia Kaltara berharap tren pertumbuhan tersebut terus berlanjut hingga periode April 2026. Sinergi antara pemerintah daerah dan pelaku usaha dinilai penting, untuk memperkuat ekosistem ekonomi digital yang inklusif di wilayah perbatasan itu.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


