TARAKAN – Pembuatan Padaw Tuju Dulung kini memasuki tahap akhir. Penurunan perahu khas Suku Tidung tersebut akan menjadi puncak acara Festival Iraw Tengkayu Tarakan 2025.
Pengarah Prosesi Penurunan Padaw Tuju Dulung, Datu Norbeck, menjelaskan bahwa ritual ini merupakan bentuk ungkapan syukur masyarakat Tidung Pesisir di Kalimantan Utara.
Pembuatan perahu tradisional itu sudah dimulai sejak sekitar satu setengah bulan lalu, lebih cepat dari biasanya.
“Biasanya dikerjakan sekitar satu bulan, tapi kali ini tukang mulai lebih awal. Sekarang tinggal tahap merakit saja,” kata Datu Norbeck, Selasa (7/10/2025).
Dia menambahkan, pengerjaan Padaw Tuju Dulung baru benar-benar rampung H-1, atau tepatnya Jumat.
Rencananya, gelaran Padaw Tuju Dulung mulai dilaksanakan pada Sabtu (11/10). “Sementara prosesi penurunannya ke laut berlangsung Minggu (12/10),” jelasnya.
Selain menjadi simbol maritim masyarakat Tidung, Padaw Tuju Dulung juga sarat makna filosofi. Warna kuning, hijau, dan merah menjadi warna dominan, masing-masing melambangkan kemuliaan, keyakinan, dan ketegasan.
Perahu ini disebut “Tuju Dulung” karena memiliki tujuh haluan, terdiri dari tiga bagian utama tengah, kanan, dan kiri, yang masing-masing melambangkan tujuh hari dalam kehidupan manusia.
Di bagian atas perahu terdapat “Meligai”, tempat duduk simbolis bagi pemilik perahu, lengkap dengan makanan tradisional yang menjadi simbol “makanan raja”.
Datu Norbeck menuturkan, Padaw Tuju Dulung merupakan rekonstruksi tradisi kerajaan Tarakan abad ke-16 hingga ke-17, yang dahulu menjadi lambang kejayaan sebelum Tarakan berada di bawah kekuasaan Kesultanan Bulungan.
Kini, ritual penurunan Padaw Tuju Dulung menjadi puncak dari pesta laut Iraw Tengkayu, yang bukan hanya simbol budaya masyarakat Tidung, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap sejarah maritim Tarakan.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


