
BERAU – Kabupaten Berau masih menyimpan cerita lama tentang kesenjangan pendidikan. Sekretaris Komisi I DPRD Berau, Frans Lewi mengungkapkan, akses pendidikan di daerah-daerah terpencil, terutama di pesisir dan pedalaman perlu perhatian serius. “Pendidikan kita memang sudah lumayan baik, tapi kalau dibandingkan dengan Jawa, tentu jauh tertinggal,” ujarnya.
Meski mengakui adanya kemajuan, tapi banyak pekerjaan rumah pemerintah daerah masih menumpuk. Infrastruktur pendidikan di wilayah terpencil, menurutnya, harus menjadi prioritas utama. “Kalau hanya fokus pada daerah perkotaan, banyak daerah yang tertinggal. Pendidikan di pedalaman harus menjadi perhatian khusus,” katanya.
Harapan besar turut disematkan pada pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Dirinya optimistis, keberadaan IKN akan membawa perubahan signifikan, termasuk dalam pemerataan kualitas pendidikan.
Kata dia, dengan meningkatnya investasi dan perhatian dari pemerintah pusat, Frans Lewi berharap Berau bisa mengejar ketertinggalan dari wilayah-wilayah maju di Indonesia.
Dia memaparkan beberapa langkah konkret yang telah dilakukan Pemkab Berau bersama DPRD untuk mendongkrak mutu pendidikan. “Adanya 1.000 titik wifi gratis saya nilai bisa mendukung digitalisasi pendidikan, terutama agar anak-anak di daerah terpencil tidak ketinggalan,” ungkapnya.
Namun, dirinya tak menutup mata terhadap tantangan besar yang menghadang. Salah satunya adalah masalah akses telekomunikasi. “Sekarang ujian berbasis komputer, jadi kalau di daerah yang masih banyak blank spot, tentu jadi masalah,” imbuhnya.
Komitmen itu, katanya, tak boleh surut. Frans menegaskan bahwa pemerataan pendidikan adalah investasi jangka panjang yang harus dilakukan secara serius. “Kami akan terus berusaha agar jaringan telekomunikasi bisa masuk ke daerahdaerah tersebut,” tutupnya. (adv)


