TANJUNG SELOR – Pendistribusian Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada satuan pendidikan di Kabupaten Bulungan dalam beberapa pekan terakhir dilakukan dengan pola berbeda.
Selama bulan Ramadan 2026, pembagian MBG dilaksanakan satu kali untuk jatah tiga hari sekaligus. Artinya, para siswa menerima paket makanan yang dapat dibawa pulang untuk dikonsumsi selama tiga hari. Kebijakan ini diterapkan sejak umat Muslim menjalankan ibadah puasa.
Kepala SDN 006 Ramania, Yeni Marlina, membenarkan pola distribusi tersebut. Ia menjelaskan, berdasarkan informasi dari Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), selama Ramadan menu yang dibagikan berupa makanan ringan dan dikemas dalam satu paket besar berisi tiga bungkus.
“Dalam satu plastik besar ada tiga bungkus untuk jatah tiga hari. Isinya bervariasi. Satu bungkus berisi susu, buah, dan roti. Bungkus lainnya ada susu, pisang, dan kurma. Serta satu lagi berisi buah, roti, dan susu,” ujarnya, Selasa (24/2/2026).
Menu tersebut dibagikan kepada siswa saat pulang sekolah untuk kemudian dibawa ke rumah masing-masing. Namun, pembagian MBG pada Senin 23 Februari kemarin, kata dia ada orangtua wali yang melaporkan kesekolah terdapat roti isi kacang ijo yang berlendir. Anak tersebut sudah sempat menggigit roti tersebut dan baru menyadari bahwa roti tersebut tidak layak dimakan. Orang tua meminta kepada pihak sekolah agar lebih jeli dalam mengecek makanan yang dibagikan kepada siswa agar tidak ada kejadian keracunan seperti kasus-kasus yang marak terjadi.
Saat pihak sekolah dikonfirmasi terkait pengawasan kualitas makanan, pihak nya memastikan tetap melakukan pengecekan sebelum MBG dibagikan. Pengecekan dilakukan oleh Person in Charge (PIC) sekolah.
“Setiap makanan yang datang tetap dicek. Saat diperiksa, kondisinya masih baik dan layak,” jelasnya.
Namun, pada siang harinya pihak sekolah menerima laporan dari wali murid. Terdapat tiga siswa yang mendapati roti isi kacang hijau dalam kondisi berlendir.
Menindaklanjuti laporan tersebut, pihak dapur penyedia MBG telah menemui keluarga siswa, dan sekolah juga menggelar pertemuan bersama pihak dapur guna mencegah kejadian serupa terulang. Pihak sekolah berharap kejadian serupa tidak terulang dan kualitas makanan seperti buah-buahan perlu ditingkatkan agar tidak ada makanan yang sebagian busuk sehingga anak-anak tidak memakannya. (*)
Martinus


