TARAKAN – Lima tahun lalu, saya pernah mewawancarai Lukas Thomas di kediamannya, Jalan P. Aji Iskandar, RT 14, Kelurahan Juata Laut, Tarakan. Kala itu, kami berbincang tentang harga cabai yang turun serta beratnya menjadi petani konvensional yang membutuhkan banyak waktu, tenaga, dan biaya.
Saya masih mengingat kebun kecil di depan rumahnya. Luasnya mungkin sekitar 8 x 10 meter. Sebuah cangkul tergeletak di halaman, sementara drum kecil di sudut kebun digunakan untuk menampung air yang kemudian dipakai menyiram tanaman.
Kamis, 20 Agustus 2026, saya kembali ke tempat yang sama. Semangat Lukas, 40 tahun, untuk bertani tak berubah. Namun, wajah kebunnya kini telah berubah menjadi greenhouse berukuran 10 x 12 meter.
Tanaman cabai tumbuh dengan dukungan sprinkler untuk pengkabutan dan pendinginan, sistem drip irrigation, pompa, sensor pH tanah, serta perangkat yang dapat dikendalikan melalui telepon genggam. Dulu, Lukas bercerita tentang lelahnya mencangkul, menanam, memupuk, dan menyiram. Kini, ia berbicara tentang aplikasi, sensor, internet, dan sistem irigasi otomatis.
Perubahan itu bukan sekadar soal bentuk kebun yang kini beratap greenhouse. Ada cara kerja yang ikut berubah. Pekerjaan yang dulu banyak mengandalkan tenaga dan pengalaman kini mulai dibantu teknologi. Tanaman dapat dipantau, penyiraman diatur, dan sejumlah perangkat dikendalikan melalui telepon genggam. Kebun Lukas akhirnya bukan hanya memperlihatkan perubahan sebuah lahan kecil menjadi greenhouse. Ia menjadi gambaran tentang wajah baru pertanian Kaltara,yang mulai memadukan pengalaman petani dengan teknologi agar lebih modern, terukur, dan efisien.

Pertanian, Sektor yang Menjanjikan
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor pertanian menyumbang 10,06 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Tarakan pada 2025, dengan nilai sekitar Rp6 triliun. Di Kalimantan Utara (Kaltara), kontribusinya mencapai 14,87 persen terhadap PDRB 2025. “Kalau di Kaltara, kontribusinya nomor dua di bawah sektor pertambangan,” ucap Umar Riyadi, Jumat (21/8/2026).
Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2025, sektor ini juga menyerap lebih dari 20 ribu tenaga kerja atau sekitar 17,62 persen angkatan kerja Tarakan. Kepala BPS Tarakan Umar Riyadi mengatakan pertanian memiliki peran penting, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga karena menjadi salah satu sektor dengan penyerapan tenaga kerja terbesar.
Komoditas hortikultura seperti cabai memiliki posisi strategis. Produksinya tidak hanya memenuhi kebutuhan Tarakan, tetapi juga didistribusikan ke Kabupaten Malinau, Tana Tidung hingga Nunukan. Pasokan yang stabil juga penting untuk menjaga inflasi.
Peluang pasar yang terbuka lebar dan besarnya dampak ekonomi ini menegaskan bahwa pertanian Tarakan memiliki prospek yang sangat menjanjikan. Namun, untuk memaksimalkan potensi tersebut, cara-cara lama tak lagi cukup.
Di tengah kebutuhan itu, perjalanan Lukas menunjukkan bagaimana teknologi dapat menjadi bagian dari perubahan. Kebunnya menjadi contoh kecil bahwa pertanian dapat dikembangkan dengan cara yang lebih modern tanpa menghilangkan peran petani.
Ketika Teknologi Membantu Petani Bekerja
Lukas, yang lahir di Nunukan pada 10 Mei 1986, telah bertani sejak 2005. Ayah tiga anak tersebut belajar dari orang tuanya dan bertahun-tahun menggunakan metode konvensional. Perubahan dimulai akhir 2024 ketika ia diperkenalkan dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Tarakan. Pada 2025, kelompoknya mengikuti studi banding pertanian modern ke Jawa Barat. Setelah itu, KPwBI mendorong pembangunan greenhouse di lahan kosong depan rumahnya. Greenhouse tersebut dibangun oleh Habibi Garden dengan perangkat pendukung senilai sekitar Rp200 juta. Cabai rawit dipilih karena berkaitan erat dengan pengendalian inflasi. “Saya tidak kepikiran kalau Bank Indonesia akan memfasilitasi ini semua, lengkap dengan peralatannya,” kata Lukas, Kamis (20/8/2026).
Percobaan awal nyatanya tidak langsung berjalan mulus. Penggunaan polybag yang terlalu kecil membuat media tanam cepat mengering di tengah teriknya cuaca Tarakan. Hasilnya, penanaman perdana pada Juni 2025 hanya menghasilkan panen sekitar 6–8 kilogram.
Lukas tidak patah semangat. Ia mengganti polybag dengan planter bag berukuran lebih besar, serta membenahi sistem penyiraman dan pendinginan. Untuk memperdalam wawasan mengenai pertanian digital, BI Kaltara kembali mengajak Lukas mengikuti studi banding ke Batu, Malang, Jawa Timur. Dari sana, ia memahami pentingnya intensitas penyiraman yang rutin bagi tanaman cabai dan langsung menerapkannya. Upaya evaluasi tersebut membuahkan hasil manis. Tanaman cabainya mampu tumbuh subur hingga setinggi 2,5 Meter dan sukses dipanen berkali-kali sepanjang tahun 2026.Terbaru, Jumat (21/8/2026), Lukas memanen sekitar 3 Kilogram cabai yang dijual di Pasar Juata Korpri dengan harga tingkat petani Rp60 ribu-Rp70 ribu per Kilogram.

Hasil tersebut memang belum besar. Namun, bagi Lukas, perubahan terlihat jelas dibandingkan panen pertama. Sprinkler dapat dijadwalkan untuk pengkabutan dan pendinginan, air dialirkan melalui drip irrigation, sementara kondisi media tanam dipantau menggunakan sensor. Sejumlah perangkat juga dapat dikendalikan melalui telepon genggam. “Kalau internetnya bagus, kita bisa mengontrol sistem dari mana saja,” ujarnya, Kamis (20/8/2026).
Greenhouse dilengkapi sensor suhu, kelembaban, intensitas cahaya, dan pH tanah. Teknologi membuat pekerjaan lebih efektif, meski belum menghilangkan tantangan. Air, listrik, dan internet tetap menjadi kebutuhan utama. Saat listrik padam, Lukas harus kembali menyiram tanaman secara manual. Bagi Lukas, teknologi bukan pengganti petani, melainkan alat untuk membantu pekerjaan. Pengetahuan tentang tanaman, cuaca, air, dan kondisi lahan tetap menjadi bagian penting dalam budidaya.
Pengalaman Lukas menunjukkan bahwa pertanian digital bukan sekadar penggunaan perangkat modern. Ada proses mencoba, gagal, mengevaluasi, lalu menyesuaikan teknologi dengan kondisi di lapangan.
Penelitian Muktar dari UIN Mataram pada 2025 mengenai smart greenhouse berbasis sensor menunjukkan teknologi IoT dapat meningkatkan hasil panen hingga 25 persen sekaligus membantu pengendalian hama. KPwBI Kaltara juga mendorong pendekatan serupa melalui pengembangan klaster pangan dengan memanfaatkan sensor cuaca, sensor tanah, dan sistem irigasi otomatis untuk mendukung pertanian presisi.
Apresiasi untuk Pertanian Berbasis Digital
Digitalisasi tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Kota Tarakan. Wakil Wali Kota Tarakan Ibnu Saud menilai teknologi dapat membuat budidaya lebih efektif, terukur, mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah, sekaligus membantu pengendalian inflasi.

Menurutnya, digitalisasi juga penting untuk regenerasi petani. “Lihat semua aspek sekarang digital, di masa depan anak-anak muda yang akan menjadi petani dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi,” ujarnya saat menghadiri Tanam Perdana Cabai di greenhouse Kelompok Tani Tunas Mekar, Kelurahan Juata Laut, Selasa (22/7/2025).
Kepala BPS Tarakan Umar Riyadi juga menilai teknologi dapat membuat dunia pertanian lebih menarik bagi generasi muda. Regenerasi menjadi penting karena petani saat ini masih banyak didominasi kelompok usia lanjut. “Dunia pertanian juga membutuhkan regenerasi. Keren juga kalau bertani menggunakan alat-alat modern,” ujarnya.
Kebun Lukas dan Wajah Baru Pertanian Kaltara
Lukas membuktikan bahwa pertanian modern tidak harus dimulai dari hamparan lahan hektaran. Kebun kecil di depan rumahnya kini berubah menjadi greenhouse dengan dukungan teknologi digital. Namun, perubahan yang terjadi di tempat itu tidak berhenti pada bentuk fisiknya.
Lima tahun lalu, cangkul dan drum air menjadi bagian dari kesehariannya. Kini, telepon genggam, sensor, sprinkler, pompa, dan sistem irigasi otomatis ikut menjadi bagian dari aktivitas bertani.
Yang berubah bukan hanya alat yang digunakan. Cara Lukas bekerja, memantau tanaman, mengambil keputusan, hingga mempelajari teknik budidaya juga ikut berubah. Pengalaman bertani yang diperolehnya selama bertahun-tahun kini bertemu dengan pengetahuan dan teknologi baru. Di situlah makna “wajah baru” dalam perjalanan kebun Lukas. Wajah baru pertanian Kaltara bukan sekadar greenhouse yang terlihat lebih modern, tetapi perubahan dalam cara petani bekerja dan mengelola usaha tani: lebih terukur, lebih efisien, dan lebih terbuka terhadap teknologi.
Namun, teknologi tetap bukan jawaban untuk semua persoalan. Air, listrik, internet, kemampuan mengoperasikan perangkat, pembinaan, hingga kepastian pasar tetap menjadi bagian yang harus diperkuat. Petani membutuhkan pendampingan agar teknologi tidak berhenti sebagai fasilitas, tetapi benar-benar menjadi alat yang mampu meningkatkan produktivitas.
Lima tahun berlalu, kebun Lukas memang telah berganti wajah. Namun, yang sesungguhnya berubah jauh lebih besar daripada bangunan greenhouse. Cara bertaninya berubah, cara bekerja berubah, pengetahuannya bertambah, dan cara memandang masa depan pertanian ikut berkembang.
KPwBI Kaltara melalui dukungan digitalisasi di kebun Lukas turut membuka ruang bagi perubahan tersebut. Teknologi hadir bukan untuk menggantikan petani, melainkan membantu petani bekerja lebih baik dan mengambil keputusan dengan dukungan data. Karena itu, kebun Lukas bukan sekadar cerita tentang cabai, greenhouse, atau perangkat digital. Ia adalah gambaran kecil tentang wajah baru pertanian Kaltara: pertanian yang tetap bertumpu pada pengalaman dan tangan petani, tetapi mulai tumbuh bersama teknologi.
Tantangannya kini adalah memastikan perubahan tersebut tidak berhenti di satu kebun. Inovasi, infrastruktur, pembinaan, kelembagaan kelompok tani, dan akses pasar perlu berjalan beriringan agar pertanian digital dapat berkembang secara berkelanjutan. Kebun Lukas mungkin hanya satu titik kecil di Juata Laut. Tetapi dari tempat itu terlihat bahwa ketika cara bertani berubah, wajah pertanian pun ikut berubah. Dan wajah baru itu bukan sekadar lebih modern, melainkan sebuah pertanian Kaltara yang berani belajar, beradaptasi, dan menatap masa depan. (*)


