Kasus Kanker di Kaltara Tinggi, RSUD dr H Jusuf SK Didorong Segera Miliki Layanan Radioterapi

TARAKAN – Tingginya angka kasus kanker di Kalimantan Utara menjadi salah satu alasan pemerintah mendorong pengembangan layanan kanker di RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan. Rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara itu diproyeksikan menjadi pusat layanan radioterapi dan kedokteran nuklir, namun realisasinya masih bergantung pada pembangunan bunker sebagai fasilitas utama penempatan alat.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan, dr. Budy Aziz B., Sp.PK, mengatakan Kalimantan Utara termasuk daerah dengan jumlah kasus kanker yang cukup tinggi. Kasus yang paling banyak ditemukan adalah kanker payudara.

Karena itu, RSUD dr. H. Jusuf SK ditetapkan sebagai salah satu rumah sakit prioritas nasional penerima bantuan pengembangan layanan kanker dari Kementerian Kesehatan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun Anggaran 2026.

“Bantuan yang akan diterima berupa alat radioterapi dan kedokteran nuklir. Namun alat tersebut hanya bisa ditempatkan apabila bunker sudah selesai dibangun sesuai standar keamanan radiasi,” ujarnya, Kamis (9/7/2026)

Bunker akan dibangun di lahan kosong sekitar 1.200 meter persegi di area samping rumah sakit. Bangunan tersebut dirancang berada di bawah permukaan tanah dengan kedalaman sekitar tiga meter dan ketebalan dinding mencapai tiga meter untuk memenuhi standar keselamatan radiasi.

Nilai pembangunan bunker mencapai sekitar Rp44 miliar yang bersumber dari DAK Kementerian Kesehatan. Namun hingga kini proses pembangunan belum dapat dimulai karena masih menunggu penyelesaian dokumen lingkungan serta tahapan pengadaan yang menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara.

Menurut Budy, keterlambatan pembangunan bunker berpotensi menghambat penyaluran bantuan alat radioterapi ke Kalimantan Utara. Apabila proyek tidak dapat berkontrak sesuai batas waktu yang ditetapkan, yakni 22 Juli 2026, maka anggaran berisiko tidak dapat direalisasikan pada tahun ini dan harus dibahas kembali bersama Kementerian Kesehatan.

Dia menegaskan keberadaan layanan radioterapi sangat dibutuhkan agar pasien kanker di Kalimantan Utara tidak lagi harus dirujuk ke luar daerah untuk menjalani terapi lanjutan.

Sebagai bentuk kesiapan, rumah sakit telah menyiapkan sumber daya manusia yang akan mengoperasikan layanan tersebut. Sejumlah dokter, perawat, radiografer, fisikawan medik hingga tenaga pendukung lainnya telah mengikuti pendidikan dan pelatihan sesuai kebutuhan layanan radioterapi.

“Kami ingin ketika alat datang, layanan bisa langsung berjalan karena SDM sudah dipersiapkan. Yang menjadi kunci sekarang adalah pembangunan bunkernya,” pungkasnya. (apc/and)

Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

BERITA POPULER