TARAKAN – Jemaah haji asal Kota Tarakan mulai menjalani rangkaian ibadah di Raudhah Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi. Pelaksanaan ibadah berlangsung tertib dengan penerapan sistem digital Nusuk yang diberlakukan pemerintah Arab Saudi, untuk mengatur jadwal kunjungan jemaah.
Meski sebelumnya sempat terjadi insiden yang menimpa salah seorang jemaah asal Tarakan, secara umum pelaksanaan ibadah haji rombongan Tarakan tetap berjalan lancar. Sebagian besar jemaah juga dilaporkan dalam kondisi sehat dan mampu mengikuti seluruh tahapan ibadah sesuai jadwal.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kota Tarakan, H. Asmawan mengatakan, seluruh layanan bagi jemaah asal Tarakan hingga saat ini masih berlangsung aman dan terkendali. Menurutnya, penerapan sistem Nusuk membuat pola ibadah menjadi lebih tertata dibanding sebelumnya.
“Jumat pagi tadi jemaah sudah mulai mendapatkan jadwal masuk Raudhah Masjid Nabawi. Karena sekarang menggunakan sistem Nusuk, semuanya bergilir dan antre sesuai jadwal yang sudah ditentukan,” ujarnya saat diwawancarai, Jumat (15/5/2026).
Dia menjelaskan, sistem berbasis aplikasi tersebut diterapkan pemerintah Arab Saudi untuk mengurangi penumpukan jemaah dari berbagai negara, khususnya di lokasi ibadah yang padat seperti Raudhah. “Kalau dulu mungkin jemaah bisa langsung masuk ketika kondisi memungkinkan, sekarang semuanya sudah berbasis aplikasi dan waktu kunjungan masing-masing. Jadi lebih tertib dan petugas juga lebih mudah mendampingi,” katanya.
Menurut Asmawan, sebagian besar jemaah kini mulai memahami pola pelayanan baru tersebut meski pada awalnya beberapa lansia sempat membutuhkan penyesuaian.
Selain pengaturan ibadah di Masjid Nabawi, pihaknya memastikan pelayanan lain seperti penempatan hotel, konsumsi hingga transportasi jemaah berjalan sesuai skema Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Hingga kini belum ada laporan gangguan besar yang menghambat aktivitas jemaah Tarakan.
“Secara umum pelaksanaan haji tahun ini tidak banyak berubah dibanding musim sebelumnya. Sistem Nusuk juga masih digunakan sehingga petugas maupun jemaah yang pernah berangkat sebelumnya tidak terlalu kesulitan beradaptasi,” tuturnya.
Dia menegaskan kartu Nusuk kini menjadi identitas utama jemaah selama berada di Arab Saudi karena digunakan hampir di seluruh layanan, mulai akses hotel, transportasi, konsumsi hingga lokasi ibadah tertentu. “Kami terus mengingatkan jemaah supaya kartu Nusuk dijaga baik-baik karena semua pelayanan sekarang berbasis data digital,” jelasnya.
Di sisi lain, kondisi kesehatan jemaah haji asal Tarakan juga dipastikan masih dalam keadaan baik. Petugas kesehatan terus melakukan pemantauan rutin, terutama kepada jemaah lanjut usia dan yang memiliki riwayat penyakit bawaan. “Alhamdulillah secara umum kondisi jemaah sehat-sehat semua. Petugas kesehatan terus melakukan pengecekan rutin supaya kondisi mereka tetap terjaga sampai nanti puncak ibadah haji,” ucapnya.
Dia mengakui cuaca panas di Arab Saudi menjadi tantangan tersendiri bagi jemaah, khususnya lansia. Karena itu jemaah diimbau mengurangi aktivitas di luar jadwal ibadah dan memperbanyak konsumsi air putih. “Cuaca memang cukup panas, jadi kami minta jemaah tidak terlalu banyak aktivitas di luar ruangan dan tetap menjaga kondisi fisik,” katanya.
Asmawan juga menyebut layanan konsumsi tahun ini dinilai lebih nyaman bagi jemaah karena menu makanan disiapkan dengan cita rasa Indonesia. Pemerintah Indonesia mendatangkan koki beserta sebagian bahan dan bumbu langsung dari Tanah Air. “Alhamdulillah jemaah merasa lebih cocok dengan menu makanan tahun ini karena cita rasanya seperti makanan di rumah sendiri,” ujarnya.
Salah seorang jemaah asal Tarakan, Abdul Rahman, mengaku sistem Nusuk memang membuat seluruh proses ibadah harus mengikuti jadwal ketat, namun di sisi lain membuat pelaksanaan ibadah lebih teratur. “Awalnya kami pikir akan ribet karena semua pakai jadwal, tapi ternyata lebih tertib. Tinggal mengikuti arahan petugas dan alhamdulillah semuanya lancar,” katanya.
Dia juga mengaku terbantu dengan pendampingan petugas kloter selama berada di Madinah, terutama terkait jadwal ibadah dan kondisi cuaca yang cukup ekstrem.
“Petugas selalu mengingatkan jadwal dan kesehatan karena cuaca panas sekali, jadi kami merasa lebih tenang selama menjalankan ibadah,” pungkasnya.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam


