TARAKAN – Lambatnya transportasi dari Muzdalifah menuju Mina menjadi salah satu catatan yang disampaikan jemaah haji asal Kota Tarakan usai menunaikan ibadah haji tahun 2026.
Ari Wibowo (36), warga Jalan Mulawarman, Tarakan, mengaku harus menunggu bus hingga hampir lima jam saat proses perpindahan jemaah dari Muzdalifah ke Mina. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi kendala paling terasa selama menjalankan rangkaian ibadah haji.
“Kalau evaluasi, mungkin di Muzdalifah. Masalah transportasinya kemarin itu. Kami menunggu hampir 4 sampai 5 jam untuk bus yang mengangkut ke Mina,” kata Ari saat ditemui usai kepulangan jemaah haji di Tarakan, Rabu (17/6/2026).
Dia menduga keterlambatan terjadi akibat kurang optimalnya koordinasi antara petugas dengan pihak maktab yang bertanggung jawab terhadap pengaturan transportasi jemaah. “Karena di situ koordinasi dari petugas sama maktab kurang koordinasi. Jadi lambat untuk pengangkutan jemaahnya,” ujarnya.
Ari menuturkan, perjalanan dari Muzdalifah menuju Mina dilakukan pada malam hari usai mabit. Namun, karena harus menunggu armada, ia baru tiba di Mina menjelang pagi. “Dari jam 12 lewat tengah malam sampai jam 5 baru sampai saya di Mina,” ungkapnya.
Meski harus menunggu cukup lama, Ari memastikan kebutuhan konsumsi jemaah tetap terpenuhi. Menurutnya, para jemaah telah dibekali makanan dan minuman sehingga tidak mengalami kesulitan selama menunggu keberangkatan.
“Kalau makanan tidak ada masalah. Makanan banyak dan kami juga membawa bekal masing-masing,” katanya.
Selain persoalan transportasi, Ari menilai pelaksanaan ibadah haji secara umum berjalan lancar. Pasokan makanan selama berada di Mina juga dinilai mencukupi bahkan berlimpah.
Dia juga mengakui cuaca panas menjadi tantangan tersendiri bagi jemaah. Saat menjalani lontar jumrah, suhu udara disebut mencapai sekitar 45 derajat Celsius. “Pada saat di Mina sempat lontar jumrah siang hari. Jadi memang lebih panas dibanding biasanya,” tuturnya.
Meski demikian, Ari memastikan pelaksanaan lontar jumrah berlangsung tertib karena telah diatur berdasarkan jadwal masing-masing negara sesuai regulasi Pemerintah Arab Saudi. “Kalau berdesakan tidak ada, karena setiap negara sudah punya jadwal masing-masing untuk lontar jumrah,” pungkasnya. (apc/and)
Reporter: Ade Prasetia
Editor: Andhika


