TANJUNG SELOR – Kisah sengsara Yesus diperankan dengan penuh penghayatan oleh Orang Muda Katolik (OMK) Santa Maria Asumpta Tanjung Selor dalam perayaan misa Jumat Agung di Gereja Katedral Tanjung Selor, Jumat (3/4/2026).
Perayaan Jalan Salib hidup tersebut dimulai pukul 08.00 WITA dan disaksikan ribuan umat. Adegan demi adegan ditampilkan hingga prosesi penyaliban Yesus di kayu salib. Uskup Keuskupan Tanjung Selor, Monsinyur Paulinus Yan Olla, mengatakan Jumat Agung merupakan bagian dari rangkaian Pekan Suci yang telah dimulai sejak Minggu Palma.
“Ada tiga hari berturut-turut mulai Kamis malam, yakni Jumat, Sabtu, dan Minggu. Semua itu menjadi satu rangkaian dalam perayaan Paskah di Gereja Katolik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Jalan Salib hidup yang diperankan OMK merupakan bentuk peringatan atas peristiwa penyaliban Yesus.
“Pada Kamis, umat mengenang perjamuan terakhir, saat Yesus mewariskan Ekaristi yang dirayakan setiap Minggu. Sedangkan hari ini, melalui visualisasi dan drama, kasih Allah ditampilkan secara konkret, bukan sesuatu yang abstrak,” jelasnya.
Menurutnya, dalam peristiwa tersebut, Yesus menunjukkan solidaritas dengan manusia dengan masuk ke dalam penderitaan terdalam, yakni dosa dan kematian.
“Maka seluruh perayaan Jumat ini diarahkan untuk menghayati misteri tersebut,” katanya.
Pada sore harinya, perayaan dilanjutkan dengan ibadat khusus sebagai ungkapan kasih atas wafat Yesus. Dalam tradisi tersebut, umat mencium salib sebagai simbol penghormatan dan balasan atas kasih Tuhan.
Selain itu, umat juga memberikan kolekte yang nantinya disalurkan ke Tanah Suci, khususnya Palestina, untuk membantu masyarakat serta pemeliharaan situs-situs suci di Yerusalem.
“Ini juga menjadi bentuk solidaritas internasional. Dana yang dikumpulkan akan diteruskan hingga ke Roma dan digunakan untuk kepentingan kemanusiaan,” tambahnya.
Ia menambahkan, rangkaian Pekan Suci dimulai dari Minggu Palma, dilanjutkan Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, hingga puncaknya pada Minggu Paskah.
Setelah itu, umat Katolik memasuki masa Paskah selama 40 hari hingga perayaan Kenaikan Yesus ke surga.
Menurutnya, tradisi seperti Jalan Salib hidup juga berkembang di berbagai negara, seperti di Polandia, yang telah dikemas secara lebih profesional dan menjadi bagian dari kegiatan rohani sekaligus budaya.
“Ini bukan hanya kegiatan iman, tetapi juga memiliki nilai kultural yang membantu umat menghayati kemanusiaan,” pungkasnya. (*)
Pewarta: Martinus


